Postingan

Harta Karun yang Hilang

Oleh. Muhadam Labolo Kita semakin yakin, bahwa kehilangan terbesar bangsa ini bukan kekayaan yang bersemayan dikandung-raganya, tapi integritas. Satu kekayaan nilai yang terkubur di benak dan lidah para elit, namun tak mengalir deras ke laku-tindak. Hanya lipstik di saat podcast. Membosankan menatap wajah para elit yang disekap komisi anti rasuah saban hari. Entah eks mentri, wakil mentri hingga tokoh-tokoh terkemuka. Mereka seharusnya menjadi simbol dan pancaran ketauladanan sebagaimana founding mothers & fathers  dimasa lalu. Hatta, mantan wapres, hingga akhir hayat tak sempat berjalan di atas sepatu Bally yang pernah Ia lihat di sebuah toko. Hoegeng mantan Kapolri, sampai tutup usia hampir tak sanggup menyicil rumah buat hari tuanya. Sutami, mantan Mentri PU selama 14 tahun hingga terbaring sakit, tak sanggup membayar listrik. Mereka bukan pejabat biasa. Pikiran dipenuhi idealisme, hati dipadati tanggungjawab spiritual, perilaku dipandu oleh kehati-hatian moral. Tiap kali p...

Mangnguluang Mansur, Sekda Depok dari Makassar

Oleh. Muhadam Labolo Ia perantau dari Makassar. Mengadu nasib di Kota Depok. Kota peninggalan komunitas Belanda pimpinan Cornelis Chastelein. Kini, Manguluang bukan mengurus budak yang dibebaskan dengan istilah Belanda-Depok, tapi melayani lebih kurang 7000 ASN sebagai sekda di kota kecil dekat Jakarta. Mangnguluang (Agung) lahir di Ujung Pandang, 7 April 1972. Ia tak punya kesan di buku kenangan. Apalagi kata-kata peneguh semangat seperti motto. Ia pria cuek, jantan, tampan, perkasa, dan bersantan, seperti komentar menggemaskan dokter dermatologist Ferdinan Sirait. Agung bukan birokrat serius dengan tipe ideal. Ia birokrat biasa, hamble , riang gembira, dan penuh janda (baca;canda). Jangan berharap duarius bila bercakap dengannya. Apalagi di komunitas etniknya. Mungkin anda akan sesat atau disesatkan. Semua soal dianggap enteng. Dibawa tawa ringan. Karenanya, saya penasaran ketika Ia serius mendaftar jadi sekda. Waktu promosi jabatan dari camat ke Kadis PTSP pun Ia melenggang santai k...

Mengenang IGK Manila, Peletak Perubahan di Lembah Manglayang

Oleh. Muhadam Labolo Dipenghujung 1995, Mayjend I Gusti Kompyang (IGK) Manila menjadi Ketua STPDN. Ia menggantikan Mayjend Sartono Hadisumarto sebagai nakhoda kedua. Untuk posisi ini tak banyak diberitakan. Ia hanya dikenang sebatas politisi, Ketua Wushu,  dan manajer sepak bola. IGK Manila alumni Akmil 1964 dengan pencabangan Corps Polisi Militer (CPM). Lahir di Singaraja Bali sebagai kelas bangsawan. Setidaknya dari namanya. Perawakan dan kumisnya yang tebal sudah cukup buat disegani. Ia pernah jadi Danpom ABRI. Itu pula yang menyelamatkan satu dua praja nakal. Suatu saat, beberapa praja keluyuran malam dari diskotik. Mereka di razia oleh aparat gabungan. Salah satu praja senior mabuk berat. Mereka ditahan dalam balutan baju preman. Tapi begitu Anggota Danpom tau itu Praja, mereka diam-diam langsung diantar hingga ke pintu Kampus Manglayang. Mereka bukan takut praja, tapi segan dengan eks komandannya. Praja merasa percaya diri bila pesiar hingga larut malam. Memanfaatkan kharisma...

Integritas Bangsaku, Renungan Kemerdekaan

Oleh. Muhadam Labolo 80 tahun kita lalui dengan klaim merdeka. Ekspresi heroik yang menegaskan bebas dari penjajahan. Nyatanya, penjajah itu tak pernah pergi. Ia hanya berganti kulit. Dulu putih, sekarang kuning dan bahkan sawo matang. Inilah realitas bangsaku, kemaren dan hari ini. Mungkin esok lusa, dan seterusnya. Keterjajahan terasa dimana-mana. Kata Socrates, kebodohan musuh utamanya. Kebodohan memproduk kelemahan. Kelemahan mencipta perasaan rendah diri. Mentalitas inferior ketika berhadapan dengan bangsa sendiri, apalagi bangsa lain. Kebodohan tak hanya bersifat individual, kini masif dan komunal. Kebodohan kolektif menjadikan bangsa kehilangan daya ungkit. Meski menanjak namun angka-angka kemajuan dinilai tak mewakili realitas. Semacam score sepak bola gajah yang di atur oleh Badan Pengatur Statistik. Netizen bahkan tak percaya bahwa ada kenaikan meski tak seberapa oleh Biro Pengatur Setingan (BPS). Kritik itu tentu menggilas rasa. Seakan tak ada lagi yang dipercaya. Dari ijaz...

Kepemimpinan Pati yang Antipati

Oleh. Muhadam Labolo Resistensi Rakyat Pati terhadap kepala daerahnya kini berubah menjadi antipati. Sebabnya, sejak Sudewo menaikkan pajak 250% dan menantang 50 ribu pemegang daulat yang pernah mengamanahkan kuasa sebagai pemimpinnya. Pemimpin pemerintahan di daerah yang secara historis punya perkara pajak sejak 1500an. Kata Pamudji (1992), kepemimpinan pemerintahan mengemban dua hal utama, yaitu organisasi birokrasi dan organisasi sosial. Kita sebut saja organisasi formal dan non formal. Sebagai manajer dan sebagai pemimpin sosial. Sebagai teknokrat dan politisi.  Sebagai pemimpin Ia membawa visi. Sesuatu yang berjangkauan luas dan jauh kedepan. Menjanjikan rakyatnya sampai ke tujuan ideal, kesejahteraan. Sebagai manajer, Ia dituntut mampu mendetailkan visi menjadi potongan program dan kegiatan agar realistik. Kepala daerah cerdas biasanya memfungsikan dirinya sebagai pemimpin yang merawat visi. Sementara detailing kegiatan dipercayakan pada sekda selaku manajer. Itu semua untuk...

Maryunani, Alumni Lintas Angkatan

Oleh. Muhadam Labolo Saya berkesempatan mampir kerumah Mas Yun. Senior 01 yang kini memilih pensiun dini di Bhumi Singosari, Malang. Ia selalu bersemangat melalui hari-harinya di rumah meski terasa lengang. Maklum, angkatan 01-05 umumnya mulai ditinggal anak karena sekolah jauh dan kerja di luar kota. Sebabnya Ia sangat menanti bila ada alumni ke pondok artistiknya. Ia antusias menerima saya dan Mas Fransdiane, 01 asal Bengkulu. Dengan semangat '45 Ia bercerita soal aktivitas harian di masa pensiun. Mulai urusan lintas angkatan, pernak-pernik artefak, lukisan antik, hingga budidaya sederhana dibelakang rumah. Ia rasanya bukan alumni, apalagi eks tentara, tapi arkeolog lokal. Mas Yun pernah tugas sebagai perwira pertama di Sulsel. Posisinya berpindah-pindah sebagai Pasi Intel. Beliau kenal baik tokoh-tokoh lokal disana. Akrab dengan Zainal Basri Palaguna, Amin Syam, Andi Galib, Syahrul Yasin Limpo, Andi Saripolo Pallaloi, Andi Nawir, Rafiuddin Hamarung, hingga Ryaas Rasyid. Ia benar...

Evert J Ronny Berotabui, Sobat Kalem dalam Kesendirian

Oleh. Muhadam Labolo Evert tak ada di group Whats Up. Jangankan itu, di group Papua pun beliau absen. Evert tak seperti purna kebanyakan. Ia mencari jalan sendiri. Menyepi dari keramaian alumni. Bahkan menjauh dari pesta reunian. Disitu masalahnya. Evert sulit dideteksi dan hidup soliter. Sejak praja, suara Evert memang terbatas. Bahkan hampir tak terdengar. Terjepit ditenggorokannya. Ia irit bicara. Kalaupun iya seperti mendesah. Misalnya menjawab pertanyaan Rene Renaldi, pengasuh kesohor di Barak Sumbar Atas. Simon Moshe menganggapnya asimilasi Papua-Sunda.  Tak hanya hemat bicara. Pribadi Evert juga selaras dengan cakapnya. Ia sosok yang santun. Mungkin kebanyakan orang akan heran bila mengenalnya. Meski pelit bicara, pelan, mendesah, Ia tak lupa menggandeng senyuman. Orang tak menyangka bahwa Ia punya pribadi semacam itu. Kontras dengan imaji pada umumnya. Bahwa orang timur (Papua) dengan kulit hitam punya perangai selembut lagu Maya Rumantir. Kadang kita suka tertipu dengan b...