Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2020

Bom Pandemi di Pilkada

  Oleh. Muhadam Pandemi kali ini tak kunjung melandai. Alih-alih mendatar, angkanya meroket menimbulkan kepanikan dimana-mana, tak terkecuali mereka yang mengambil bagian dalam pesta demokrasi, pemilukada. Kecemasan terburuk kita adalah ketika pesta berubah menjadi puncak bencana. Bukan mustahil, semua area pencoplosan diperkirakan dapat menjadi klaster terbaru hingga mencapai titik ledak bom atom sebagaimana prediksi Qodari (2020). Bila itu bukan spekulasi positivity rate, alamat salah pasti ditujukan ke pelaksana pesta demokrasi sebagai upaya sistemik, terstruktur, masif, dan terencana.  Demokrasi hanyalah sebuah pilihan sistem. Mekanismenya tersedia sesuai kebutuhan, tinggal ditarik dirak buku, manakah yang lebih efisien dan efektif diterapkan dimasa sulit semacam ini. Apalagi kita kaya akan pengalaman soal praktek demokrasi melebihi negara-negara di Asia Tenggara. Memaksakan pesta ditengah ancaman pandemi sama saja bunuh diri massal. Pesta biasa dengan skala kecil dikampung ki

Membumikan Pesan Presiden & Mendagri Bagi Pamongpraja Muda

Oleh. Muhadam      Wisuda dan Pengukuhan IPDN kali ini unik dan bersejarah. Unik karena dilakukan lewat virtual, bersejarah karena berada dimasa pandemi covid 19 tahun 2020. Keunikan dan sejarah itu tentu mudah mendekam dalam benak angkatan 27, bahkan menjadi semacam penanda disela gurauan mereka, angkatan covid 19 atau angkatan corona. Kita hanya mampu membangun semangat mereka bahwa dalam masa yang penuh kesuraman ini biasanya Tuhan sedang mempersiapkan yang terbaik diantara kalian untuk menjadi pemimpin dimasa mendatang. Sebab pemimpin hebat biasanya lahir dari terjangan gelombang pasang, cuaca ekstrem, dan ramai cobaan, bukan tumbuh dalam keadaan biasa-biasa saja. Setiap pemimpin lazim dikirim Tuhan pada latar alam, sosial, politik dan ekonomi yang terpuruk, lengkap dengan sosok antagonis selaku penguji iman dan pembesar jiwa. Artinya latar sosiologis dan perkara yang sedang dihadapi adalah pengungkit yang sengaja disediakan Tuhan untuk menghidupkan setiap pembaharu pada satu masa.

Kebenaran & Keberanian Sufi

  Oleh. Muhadam   Akhir buku Studi Hermeneutika, Kajian Pengantar  karya Edi Susanto (2016) dinukilkan sebuah kisah pendek tentang seorang Sultan meminta nasehat pada Sufi. "Katakanlah kepadaku tentang suatu kebenaran wahai Sufi". Jawab Sufi, "mampukah telinga Sultan mendengarkan kebenaran, sebab suara kebenaran melebihi suara petir disiang hari, selaput telinga Sultan bisa terkoyak", jawab sang Sufi. "Apa gunanya sepasang telinga yang tak mampu mendengarkan kebenaran, biarlah selaput telingaku robek, aku tetap ingin mendengarkan suara kebenaran," jawab Sultan.    Beberapa tahun kemudian datanglah sang Sufi ke Istana Sultan. Begitu mendengar kedatangan sang sufi, Sultanpun bergegas ke gerbang istana untuk menjemputnya. Tak lupa turut bersama Sultan, Putra Mahkota, putra tunggal Sultan. Mereka menyalami sang Sufi, "selamat datang, silahkan masuk." "Tunggu dulu, kata Sufi, biar aku memberkati putramu." Lalu Ia menepuk-nepuk kepala sang Pu

Membaca Kontradiksi Pemerintahan

Oleh. Dr. Muhadam Labolo           Catatan Ben Bland, Direktur Program Asia Tenggara di Lowy Intitute tentang Man of Contradictions-Joko Widodo and The Struggle to Remake Indonesia  (Sept 2020), menarik untuk dicermati. Buku setebal 180 halaman itu tidak saja mendeskripsikan keberhasilan Jokowi sebagai Pembuat Mebel menangkap imajinasi bangsa Indonesia, juga kemampuannya bertarung mendamaikan berbagai persoalan yang dihadapi. Pada konteks pertama Ben menjelaskan bagaimana Jokowi merealisasikan mimpi-mimpi ekonominya, memposisikan dirinya ditengah transisi demokrasi dan otoritarianisme serta pergaulan international. Seluruh modal politik tersebut telah mengantar Jokowi ke putaran selanjutnya sebagai presiden.           Menariknya, sekalipun makna kontradiksi diintrodusir sebagai hal yang tidak selalu negatif, namun tekanan pada kalimat memudarnya janji-janji politik, pembangunan dinasti politik, serta pelemahan lembaga anti korupsi yang merespon demonstrasi mahasiswa, setidaknya menyemp

Relasi Alit & Elit Dalam Politik-Pemerintahan

  Oleh. Dr. Muhadam Labolo      Mekanisme pilkada langsung pada dasarnya mempermudah imajinasi alit agar berjarak dekat dengan personifikasi elit yang paling dipercaya lewat lembaran kertas suara. Faktanya, rekomendasi partai tak selalu bersenyawa dengan asa publik. Apa yang dibutuhkan seringkali tak muncul dalam daftar pilihan ganda, kecuali hasrat elit partai yang mesti ditelan mentah-mentah. Kolaborasi warna tak jarang telah melunturkan karakter aslinya. Efek warna pada basis konstituen bisa berubah silau, suram atau buta warna. Peluang bagi timses cukup dengan menebar pewarna buatan, money politics . Sisi baiknya, keindahan warna adalah rahmat, itu cukup membahagiakan menurut dogma spiritual.         Kesenjangan semacam itu pada kenyataannya menyadarkan kita mengapa elit tak pernah merasa bagian dari alit yang populasinya maha banyak dan maha penting. Elit dan alit sama-sama ter-alienasi di sudut arena kompetisi, berlawanan, vis a vis , diametral, berkonflik, bahkan kehilangan kesa

Reorientasi Subkultur Ekonomi, Merespon Resesi

  Oleh. Dr. Muhadam Labolo        Kerumitan terbesar bagi semua pengambil kebijakan di dunia hari-hari ini adalah membuka kran ekonomi ataukah menutup celah pandemi. Dilema itu tak hanya menekan psikologi penentu arah kebijakan di pusat, demikian pula di daerah. Pilihan bijaknya melonggarkan sembari mengencangkan. Dua hal yang tak mudah bagi siapapun yang duduk ditampuk pemerintahan, apalagi gejala ekonomi kita menunjukkan ketidak-bugaran pada empat variabel utama, kemiskinan, pengangguran, ketimpangan, dan pendapatan perkapita. Angka kemiskinan menanjak 26,42 juta jiwa, pengangguran merangkak lebih dari 60 ribu jiwa, ketimpangan gini rasio memperlihatkan 20% menguasai sumber daya, 80% menikmati kerak, sementara pendapatan perkapita melambat 2,97% pada triwulan pertama (BPS, Maret 2020).         Data sederhana diatas bukanlah hal yang mengejutkan ditengah kekuatiran ekonomi dunia menuju resesi global (Mulyani, 2020). Uniknya, pengalaman atas gejala resesi memperlihatkan bahwa semakin k

Pamong dan Resiko Pelayanan

  Oleh. Dr. Muhadam Labolo      Sejak dulu tugas-tugas Pamong mengandung high risk . Hal ini tergambar pada tiga buku terakhir seputar kenangan Pangrehpraja karya SL Van der Wal (2001), Leontine E Visser & Amapon (2008), atau  karya pendek La Ode Budzali tentang Bhakti Pamongpraja di Merauke (2017). Dimasa lalu tantangan terberat Pamong adalah alam liar, tempat mereka pertama kali bertugas. Realitas itu membutuhkan ketahanan mental dan fisik yang tak terkira.  Wal menceritakan bagaimana sulitnya mencapai perkampungan adat di wilayah Sumatera, Sulawesi dan pedalaman Kalimantan (1920-1942). Dengan secarik surat perintah dan pakaian dinas putih cukup membuat penduduk setempat menghormati para ambtenaar . Modal dasar pengetahuan seorang Pamong adalah, pahami sosiologi dan hukum adat, temukan pimpinan tertinggi baik adat maupun agama, lalu selesaikan masalah mereka dgn cara mereka (kearifan lokal). Penyelesaian terbaik diselesaikan dirumah adat dan diterima oleh pihak-pihak yang bertika

Ontologi Ilmu Pemerintahan, Sebuah Perbandingan*

Oleh. Dr. Muhadam Berbeda dengan ilmu politik, ontologi ilmu pemerintahan dideskripsikan Taliziduhu Ndraha dalam rangkaian tangga vertikal dari Tuhan hingga berakhir pada manuais (kybernologi I, 2003). Tuhan yang diyakini sebagai sentral gravitasi mendesain individu dalam konstruksi awal berinisial mahluk yang kemudian menanjak ke konsep manusia, penduduk, masyarakat, bangsa, rakyat hingga yang paling kompleks, negara. Terdapat pula konsep orang dan civil society yang tak begitu panjang dielaborasi. Jika dipahami secara mendalam, pada setiap konsep itu mengandung konsekuensi dan implikasi luas terhadap eksistensi pemerintahan dan ilmu apa yang patut dipelajari untuk mengkonstruksi posisi akademiknya. Sebagai contoh, relasi individu sebagai makhluk dengan Tuhan telah melahirkan tidak saja aspek teologikalnya, juga kesadaran etik dan doktrin yang meluas hingga membentuk sistem pemerintahan teokrasi maupun etika pemerintahan. Demikian pula konsep penduduk yang melahirkan kesadaran lingku