Postingan

Apa yang Diingat dari Manusia?

Oleh. Muhadam Labolo Tulisan Cak Mad tentang Titining Tindak Tumanduk, Tata Ningrat menarik direnungkan. Ia menjembatani pikiran Albert Bandura dalam perpektif filosofi Jawa (2026).  Saya coba memetik intinya. Memparafrase dan mengelaborasi bagian yang menurut saya punya kedalaman. Misalnya keningratan, budi pekerti, keburukan, dan apa yang tersisa dari hidup manusia yang pendek. Nuansanya dekat ke psikologi-pemerintahan. Problem pemerintahan lebih intim disentuh oleh politik, hukum dan ekonomi. Kita kehilangan sudut pandang lain yang mampu membangun keinsyafan bagi masa depan kepemimpinan.  Ini penting dalam membangun kesadaran moralitas kepemimpinan yang tercemar. Rasanya hampir tak ada aspek yang bersih oleh korupsi. Apalagi hari-hari ini, dimana muka, jabatan dan ijazah sedang dicari dan diverifikasi kata kyai di Gontor. Dulu, sekolah hanya untuk kelas ningrat. Apalagi sekolah elit sekelas Osvia dan Stovia. Ningrat dalam konteks ini kelas sosial dalam masyarakat. Manusia ...

Mengenang Ainuddin, Pendaki Gunung dari Lombok Timur

Oleh. Muhadam Labolo Ainuddin, lahir di Masbagik Timur, Lombok Timur, 18 November 1973. Terakhir bergabung di Wira C/C2. Ia hidup menyepi, jauh dari keramaian, bersama tiga anak dan istrinya. Di Lombok Timur, tempat kelahirannya, Ia tugas bersama teman seletting, Edi Ilham. Beberapa kali pindah jabatan, terakhir dipercaya sebagai Kabag di Setwan DPRD Lombok Timur. Dalam percakapan via japri, Ainuddin rajin bertanya perkembangan anggota group yang bermasalah di Lapas. Ia rajin jadi donatur. Protes bila namanya tertulis cepat jadi Aminuddin. Ainuddin punya hobby mirip Rocky Gerung. Solo mountain climber . Ia merasa tenang bila hidup bersama alam. Tak perlu sampai menundukkan, apalagi sampai menguasai dan mengeksploitasi alam. Katanya, alam tempat kita datang. Dan alam pula tempat kita kembali. Bukankah bijak bila kita lebih dekat dan hidup dari mereka. Kita terlalu lama lupa soal itu hingga alam murka. Ainuddin terinspirasi ketika Ia hidup tiga tahun di Manglayang. Dalam kesannya, Ia men...

Menyederhanakan Urusan Pusat di Daerah

Oleh. Muhadam Labolo Ketegangan hubungan pusat dan daerah kian dinamis. Pasalnya, tekanan pusat terhadap fiskal, pajak, belanja publik dan kebutuhan daerah tak pernah melandai. Daerah pusing dan mulai berteriak. Gubernur Papua Barat Daya, Kalbar, Kalteng, Sulteng dan Bupati Siak diantaranya. Mereka mulai lantang di ruang publik. Sisanya menahan diri, menjaga harmoni, atau mungkin kata Askar (2026), pengecut, alias bersikap opurtunis. Padahal apa yang diartikulasikan tak keliru. Hak masyarakat di daerah, sesuai porsi dalam kerangka otonomi. Rasa-rasanya sudah cukup bicara lewat DPD, DPR, asosiasi, bahkan dengan eksekutif. Semua mental. Tak ada sahutan, apalagi jawaban. Daerah gusar. Kebijakan desentralisasi yang digelar sejak 1999 bergerak mundur. Transfer ke daerah mapet. Kini, 490 daerah terancam gagal biayai rumah tangganya (Kemenkeu, 2026). Asumsi bahwa pusat kuat dimulai dari entitas terbawahnya bukan tak terbukti. Ia lebih karena tak sengaja dilemahkan. Dengan alasan, pusat lebih ...

Mencegah Wewenang Menjadi Pedang Kekuasaan

Oleh. Muhadam  Kekuasaan selalu menggoda. Ia memiliki kecenderungan dan sifat unik. Monopolistik, mempertahankan, memengaruhi, memperluas, langka, dan anti kritik. Terkadang menyangka mandat sebagai hak milik. Dititik itulah kita akan membaca, apakah pemberhentian sementara enam Pejabat Tinggi Pratama oleh Bupati Gowa (SHT) semata mutasi biasa, ataukah hilangnya batas-batas kewenangan atas dasar hukum (SK 21 Agustus 2026). Dua implikasi patut dilihat dari kasus ini. Pertama, bagaimana perspektif hukum administrasinya (UU 5/2014, Manajemen ASN). Disisi lain bagaimana menilai penggunaan wewenang dalam aspek administrasi pemerintahan (UU 30/2014). Dari sudut pandang hukum administrasi, penting untuk memaksa pihak terkait (BKN dan Kemenpan) guna memastikan kesesuaian prosedur manajemen ASN dijalankan atau tidak di tengah dalih, saya berwewenang. Instrumen ini untuk menjamin kebersihan ASN yang dinonaktifkan dari tuduhan tanpa alasan. Instrumen kedua digunakan untuk menguji keabsahan we...

Menarik Daerah Dalam Program Nasional

Oleh. Muhadam Labolo Tiap kali pemerintah melepas kebijakan, Ia dengan sabar diuji publik. Ujian itu berupa sentimen positif dan negatif. Baiknya, Ia menjadi energi baru dalam siklus kebijakan pemerintah. Bukan ancaman dan pembangkangan. Analisis sentimen dapat memproduksi nilai positif dan negatif. Positif, bila publik merasakan kebijakan benar-benar menyentuh bagian terdampak dari kebutuhannya. Bagi pemerintah, kebijakan dapat dikalkulasi ulang untuk dipompa, direduksi, atau dieliminir dengan timbangan tertentu. Ia menjadi bahan baku untuk mereproduksi kebijakan. Negatif, bila kebijakan tak hanya jauh dari kebutuhan, juga menetes kering saat tiba dihadapan rakyat. Sentimen tak jarang menjadi bola panas yang ditendang liar oleh para kritikus. Kebijakan ibarat umpan yang dikunyah sebentar lalu dimuntahkan (communication). Malangnya, birokrasi kebagian mengunyah. Pengamat memuntahkan bagian terkeras yang sulit dicerna ke ruang publik. MBG misalnya. Kebijakan nasional yang dijalankan ol...

Sekjen KPU Baru

Oleh. Muhadam Saya diundang pelantikan sekjen KPU. Rabu, 26 Agustus 2026, pukul 10.00 WIB di Kantor KPU. Suryadi dilantik dari posisi deputi ke sekjen. Ia pun sudah menjabat Plt sekjen sejak ditinggal sekjen lama. Suryadi punya dua kebahagiaan besar tahun ini. Usai menikahkan anaknya di Ternate, dilantik pula jadi sekjen. Dan hebatnya, Ia menggantikan teman sejawatnya, Bernad Dermawan Soetrisno. Bernad kini bergeser sebagai deputi di setwapres. Ia berganti _dress code,_ dari putih ke biru muda. Baju dinasnyapun pakai 4 kantong besar. Atas dua, bawah dua. Persis Presiden Prabowo Subianto. Jarang sirkulasi terjadi sesama angkatan. Biasanya yang lebih senior, atau yunior, seperti di TNI/Polisi. Di KPU sendiri banyak senior dan yunior yang mungkin memenuhi kriteria. Tapi jatuh di pundak Suryadi. Artinya, Pak Bernad berhasil. Sukses melakukan regenerasi. Bahkan mempertahankan posisi itu buat alumni Manglayang. Selain mereka, Aries Djaenuri pernah sekjen disitu. Beliau alumnus APDN dan Gubes...

Mengenang Sahabat Eka Surya Agus

Oleh. Muhadam Labolo Dulu, saya sering ke Kalbar. Beroleh projek kecil dari Sekadau dan Ketapang. Sekadau, desa kecil yang disulap jadi kabupaten. Ketapang jauh, naik pesawat lagi dari Pontianak. Banyak hotel, tapi buat Sarang Walet. Karena sebab itulah saya ketemu Dwi Indra Buana, Tommy, Jamhur, dan Eka Surya Agus. Yusnida ketemu di Jakarta setelah akhirnya balik dan wafat di Kalbar. Mereka telah mendahului karena sakit. Tersisa Ahmad Salafuddin, Rizma, Yudi dll. Eka Surya Agus lahir di Singkawang. 6 Desember 1974. Ia suka renang dan sepak bola. Saat jumpa terakhir, Ia ajak ke rumah Charles. Charles lebih banyak istrahat sepulang kantor. Ia kena stroke kecil, dan kini mesti cuci darah. Di RS Soedaryanto, mereka terbaring bersebelahan. Kemaren siang Eka pergi duluan, pukul 14.25 WIB. Teringat almarhum Haris Kariming dan Ali Rizal, bersebelahan di RS Palu. Ali mendahului, disusul Haris kemudian. Akhir hayat tak ada yang tau. Saat bersama, proporsi badan Eka sangat ideal. Dwi Indra bahka...