Mengakhiri Korupsi, Pelajaran Tiongkok
Oleh. Muhadam Kita hampir kehilangan gagasan. Untuk satu penyakit sosial paling akut, korupsi. Penyakit itu sudah membudaya, bahkan menuju bencana nasional, kata ilmuan senior Siti R Zuhro (2026). Kita tak lagi bertanya mengapa, tapi bagaimana mengakhiri korupsi. Apakah dari atas, ataukah dari bawah. Kerumitan mengawali dari atas menimbang kekuasaan dibentengi tembok berlapis. Pikiran mudahnya, dari atas jumlahnya lebih sedikit. Mudah dipenggal bila kepalanya busuk. Begitu teorinya. Pengaruhnya luas dan berantai. Satu goresan tinta penguasa dapat mengakhiri seluruhnya. Sebaliknya, kesulitan dari bawah karena korupsi _too much and too soon._ Kita hanya bisa mengambil sampel. Hari ini penjambret, besok maling ayam, lusa preman jalanan. Lama-lama melelahkan dan terbiarkan. Kita seperti menangkap nyamuk. Selesai di satu tempat, muncul di tempat lain. Korupsi subur bukan karena budaya, tapi lebih karena sistem yang timpang. Hilangnya keberpihakan struktural. Pada era 60an Tiongkok dilanda k...