Postingan

Pelajaran Pemerintahan dari Iran

Oleh. Muhadam Labolo Ketika Iran memperlihatkan eksistensinya lewat strategi dan teknologi perang dihadapan Israel dan Amerika, dunia seakan bangun dari tidur panjang. Iran sekali lagi menegaskan peradabannya yang sunyi namun membakar. Ia bukan negara penurut seperti jamak di Jazirah Arab selama ini. Telah lama sejarawan mempercakapkan Iran sebagai bangsa tangguh di timur (Dinasti Sassanid). Ia pernah hidup sejaman dengan imperium besar Romawi di barat. Dua imperium besar yang masing-masing menguasai belahan dunia dengan idiologi kontras yang kini menjadi serpihan kecil. Kekaisaran Romawi runtuh menyisakan Romawi Barat dan Timur. Inilah sebagian besar eropa barat dan timur yang menjadi negara-negara kecil seluas Sulawesi, Sumatera dan Jawa di Indonesia. Sementara Persia menyisakan negara-negara di timur tengah dan asia barat. Sentrum kekuasaan Romawi di Italia. Negara seluas gabungan Provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Jumlah penduduk Italia 59-61 jt, lebih 10 juta dibandi...

Perbandingan Pemikiran Ryaas & Talizi dalam Reformulasi Pemerintahan

Oleh. Muhadam Labolo Ketika Ryaas (1999) memaknai pemerintahan, Ia mulai dengan imaji ketidakteraturan. Sebuah realitas penuh kekacauan sebagaimana kecemasan Hobbes saat menulis Leviathan (1651). Manusia hanyalah zoon yang perlu ditertibkan secara politik kata Aristoteles (zoon politicon). Dari ketidakteraturan itu, (social disorder), Ryaas membangun eksistensi pemerintahan sebagai entitas yang tak terhindarkan, dan karenanya dibutuhkan. Ia merekonstruksi fungsi dan tugas pokok pemerintahan hingga membentuk proposisi dari perspektif politik pemerintahan. Basis ontologi Ryaas disusun lewat pertanyaan mengapa, dan apa makna pemerintahan bagi manusia. Sebagai perangkat yang mutlak dibutuhkan, pemerintahan adalah tindakan maupun fungsi melayani dan mengatur kehidupan kolektif, bukan semata kekuasaan absolutis. Dari pemaknaan itu lahirlah fungsi pemerintahan yang jamak disitasi mahasiswa; pelayanan, pembangunan, pengaturan, dan pemberdayaan. Tak lupa Ia menekankan pentingnya etika dan kep...

Kemana Arah Pembangunan Pemerintahan?

Oleh. Muhadam Labolo Dalam pidato guru besarnya tahun 1997, Ryaas memberi judul speech nya, Pembangunan Pemerintahan Indonesia Memasuki Abad 21. Selain identik dengan Lucian Pye tentang Pembangunan Politik, Ia seakan menjembatani ide eks Presiden Amerika ke 28, Woodrow Wilson (1887) yang menarik garis demarkasi antara politik dan administrasi. Menurutnya, administrasi mesti netral, efisien, dan bebas dari gangguan politik praktis. Hanya dengan cara itu birokrasi menjadi sehat dan profesional meski keduanya hidup dalam realitas kumpul kebo (samen leven) . Birokrasi tumbuh karena diasuh politik. Administrasi pembangunan sendiri baru digalakkan pasca perang dunia kedua (1945) guna merekonstruksi kehancuran negara-negara kalah. Tentu saja selain kegagalan administrasi traditional barat yang tak kompatibel di Asia dan Afrika. Meski serumpun, dua konsep besar pembangunan dan pemerintahan itu memiliki cabang taksonomi berbeda. Ryaas berupaya mewadahinya lewat mimbar akademik. Pembangunan dia...

Mengenang Acim Dartasim; Survivalitas

Oleh. Muhadam Labolo Acim Dartasim, Pasopati kelahiran Majalengka, 6 April 1972 punya banyak cerita. Ia anak ke 2 dari 4 bersaudara. Asdaf Jawa Barat yang menghabiskan lebih separuh hidupnya di Jawa Timur, Mojokerto. Di Manglayang, Acim pernah jadi Ketua Kontingen Jawa Barat. Mengurus dan melayani kepentingan teman-temannya. Ia lincah-meliuk kemana-mana agar urusan beres tanpa kendala. Apa saja di tempuh dengan caranya. Menurutnya, dengan ukuran tubuh alakadarnya justru menguntungkan. Jarang kena sentuhan senior di hati maupun ulu hati. Ia berselancar kesana-kemari tanpa harus berurusan dengan Binjas, Satgap, Darmapati dan Polpra swasta. Ia mengandalkan tubuh yang mini untuk survive. Tapi justru disitulah masalahnya. Ia berhadapan dengan banyak aral ketika tugas dilapangan. Ia kurang awas dengan banyak hal hingga berurusan dengan perkara hukum. Ia sangat percaya diri. Satu modal yang kini tak banyak dimiliki. Ia tak pusing dengan sekelilingnya, yang penting survive. Baginya, semua masa...

Memaknai Ulang Pemerintahan

Oleh. Muhadam Labolo Pemerintahan kehilangan makna. Demikian basis argumen yang dibangun Ryaas ketika menulis kitab makna pemerintahan, sebuah tinjauan dari sisi etika dan kepemimpinan (1999). Ia mencoba mengajak kita memaknai ulang pemerintahan pasca keruntuhan orde baru, 1998. Pemerintahan mengalami depresiasi. Penyusutan kualitas moral dihadapan pemangkunya sendiri. Di titik itu pemerintahan kehilangan arti hingga dikerdilkan, seakan tak punya fungsi apa-apa kecuali musuh bersama yang siap dirajam (common enemy). Ryaas mengingatkan kita sebagai pemilik daulat dalam negara (state of dignity). Inisiator yang butuh pemerintahan. Bukankah perasaan takut manusialah yang mendorong keinginan untuk membentuk pemerintahan (Hobbes, 1651). Perasaan takut itu pula yang mendorong survival of the fittes. Satu naluri bertahan hidup hingga merelakan sebagian besar haknya dikontrol secara absolut oleh otoritas istimewa bernama lembaga pemerintahan. Disinilah fungsi pertahanan dimulai, upaya melind...

Kehilangan, Catatan Buat Sahabat Pasopati, Mas Hedik

Oleh. Muhadam Labolo Kita tak tau harus berkata apa, kecuali melepas kalimat perpisahan sesuai tuntunan agama masing-masing. Dalam sebulan terakhir, kita merelakan Serly, Deddy, Joko, dan Hedik pergi mendahului. Mereka pergi dalam diam, tanpa sapa yang panjang sebagai pengantar. Hedik Iswanto lahir di Jember, 1 November 1973. Satu dari empat bersaudara, tugas di Tulungagung bersama Wahyd. Ia punya generasi pelanjut, Ahmad Masda Reza Fahlevi, Angkatan 30, yang sekarang jadi ajudan Wakil Bupati Tulungagung. Dulu, Ia paksakan diri bertemu di Kampus Jakarta. Urus anaknya masuk Manglayang. Saya bersikeras melatih CAT hingga rangking 5 besar se-Jatim. Waktu lulus, Hendik mampir di rumah buat sekedar terima kasih. Sama seperti anak Bu Eny-Budi asdaf Banyuwangi, yang akhirnya lulus di putaran kedua.  Sejak kelulusan anaknya, Hedik buat bimbel bantu anak-anak purna masuk Manglayang. Saya kirim trainer alumni Kemenpan. Dia selalu melapor berapa yang lulus dan gugur tiap kali dibuka pendaftar...

Mengenang Sahabat Pasopati, Deddy Friadie & Joko Priyanto

Oleh. Muhadam Labolo Deddy dan Joko rasanya punya perangai yang relatif sama. Sedikit bicara, tenang, perasa,  halus, menyenangi gurauan, dan jauh dari publisitas. Mereka menggeluti dunia birokrasi dalam cara yang jamak, laksanakan hingga capai suhu tertentu. Deddy lahir di Banjarmasin, 28 Juni 1974. Beliau anak pertama dari tiga bersaudara. Meninggalkan seorang istri dan dua putra. Keduanya tamat SMA dan sedang berjuang ke perguruan tinggi. Deddy bertugas sebagai Kabag Pemerintahan di Kota Banjarmasin. Saya berkali-kali mampir ke Kalsel atas undangan Teuku Dahsya, namun jarang ketemu Deddy. Sama sulitnya ketemu Minggu Basuki walau disana pas hari minggu. Minggu aktif di group dan sering japrian, namun Deddy absen. Mereka tugas di kota yang ramai. Sama sibuknya dengan kepala daerah. Deddy yakin betul bahwa akar pendidikan selalu pahit dirasakan namun berakhir manis. Itu beliau katakan lewat kesan di buku kenangan. Kendati Ia sendiri harus puas di eselon tiga di akhir hidupnya. Ia t...