Membangun Kesadaran Diri

Oleh. Muhadam Labolo

Saya pernah bilang, pensiun 04 dimulai normal tahun 2033. Sekalipun teman-teman tugas belajar akan mendahului sebelum itu. Uda Akmal, Mas Sutomo, Karaeng Taufik dll. Setidaknya 200 lebih akan memasuki purna tugas 4-5 tahun kedepan. Tutup buku.

Kita pernah baca sebuah narasi pendek, ada periode dimana kita disingkirkan, atau terseleksi secara alami. Kita bukan dibuang, tapi begitulah hukum alam bekerja, menyisir yang tua, senior dan kuno ke yang muda, yunior dan kekinian. Regenerasi.

Kata Darwin, proses biologis berjalan secara revolutif dan evolutif. Ada yang terpinggir cepat tanpa gejala. Ada pula yang merangkak pelan hingga puncak dan menua akhirnya. Mereka lenyap karena seleksi alam, atau benar-benar menepi karena seleksi buatan.

Waktu dan pergantian adalah sunnatullah. Kita hanya perlu membangun kesadaran diri (self consciousness). Kesadaran akan makna sesungguhnya. Semacam kemampuan menyadari pikiran, perasaan, ingatan, sensasi diri, dan lingkungan. 

Kesadaran seperti itu biasanya tumbuh di usia sekarang ini. Bagi diri, Ia mengendalikan gaya hidup berlebihan. Ia mulai membatasi apa yang tak diperlukan. Memberi jarak antara mana yang butuh dan mana yang penting.

Kesadaran diri akan membuat batas antara mana yang berkolesterol dan mana yang menambah asupan gizi. Kesadaran diri akan menyadari betapa penting menyehatkan diri daripada merusaknya lewat perilaku hidup tak sehat.

Kesadaran diri pun akan memengaruhi lingkungan. Ia memicu kehati-hatian bertindak untuk hal yang membahayakan orang banyak. Ia mulai menyadari betapa setiap goresan tinta dalam bentuk tanda-tangan berimplikasi jauh kedepan. Mencipta bahagia atau derita.

Kesadaran itulah yang mengendalikan hidup merusak atau membangun. Kita mulai menyatu dengan alam agar hidup relatif nyaman dan lama. Kesadaran membuat ekosistem saling mendukung. Tanpa kesadaran kita sewaktu-waktu menerima murkaNya. Banjir misalnya. Alam hanya menyeimbangkan apa yang luput dari kesadaran kita selama ini.

Calne (1999) mengibaratkan kesadaran sebagai akal budi yang kita sadari. Semacam kota yang dipenuhi penduduk, interaksi, dan bangunan infrastruktur nan indah. Namun di luar itu bukan mustahil terdapat penduduk, aktivitas, dan bangunan liar yang tak tersentuh oleh kita. Itulah akal budi tanpa kesadaran (non concious mind).

Apakah kita ada dalam tahapan kesadaran itu, atau kita hanya hidup dalam rutinitas tanpa bobot. Jangan-jangan kita cuma hidup dalam formalitas dan menggugurkan. Sesuatu yang menghilangkan kesadaran, apalagi dihalusinasi oleh gadjet, atau dibutakan oleh daya rayu lingkungan. Kita terperangkap pada hidup tanpa kesadaran.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seri: Kajian Filsafat Ilmu Pemerintahan

Sejarah Singkat Luwuk

Memosisikan Mahakarya Kybernologi Sebagai Ilmu Pemerintahan Berkarakter Indonesia[1]