Catatan Penghiburan Buat Shirly Margaret Sudjiman
Oleh. Muhadam Labolo
Lebih 30 tahun lalu, Shirly Margaret Sudjiman (NPP. 2688) pernah sekelas. Di Madya, bila tak salah terka. Ia Wanitapraja yang lincah dan cerewis, khas timur hingga kelas tak pernah sepi. Beranjak dari satu meja ke meja lain. Ia dan genknya hanya berhenti bila ada dosen dan senior masuk kelas.
Shirly manise, bahkan di usia 52 tahun parasnya tak banyak berubah, kecuali tubuhnya yang subur. Ia bukan tak mau hadir reuni saban diundang, tapi butuh effort untuk sampai di lokasi acara. Kali terakhir reuni khusus putri, Ia mesti double seat ditemani putri dan cucunya yang lucu.
Shirly hadir di reuni itu dengan hati yang lapang. Ia ingin memastikan pada teman-teman putri tanpa harus mempertanyakan lagi absensinya selama ini. Ia ada, walau dengan gerak yang kian lamban. Ia menyempatkan foto, tak terkecuali dengan saya yang di daulat sebagai pengantar.
Di Kelas Madya, Shirly punya banyak cara mencairkan suasana. Ia bahkan mencubit satu dua praja putra yang bawaannya idealis supaya tertawa, riang gembira. Apalagi para calon anggota Manggala Korps Praja yang sok jaim. Mereka di rosting sampai elek. Shirly bisa buat PUDD kelas jadi berisik.
Waktu bersua di reuni, Shirly hanya tersenyum walau tak selincah dulu. Terpasung ketat di kursi roda sambil menyapa siapa saja. Ia pasrah, menanti uluran tangan teman-teman yang lewat. Andai bisa berdiri, mungkin Ia orang pertama yang akan menguasai panggung sambil berteriak, "hayo,...lupakan semua kerjaan di kantor, termasuk urusan rumah tanggamu!"
Waktu di Manglayang Shirly lebih suka bermain. Ia alergi buat Proposal LA seperti curhatnya di Buku Kenangan. Ia yakin selepas dari kampus akan ada derita yang lebih dari sekedar berakit-rakit dahulu bersenang kemudian. Ia sadar bahwa rasa sakit adalah jalan damai menuju puncak seperti kata Mas Dipa Abadi, Motivator Pasopati.
Shirly menikmati hari-hari akhir dari tempat duduk. Seakan tiap detik tak ada yang terlewati. Memandang suami, anak dan cucu berlarian tanpa dapat dicegah. Ia bahagia di rumah kecil, ditemani Johannis Silas Dias, suami yang sabar dan penuh kasih membesarkan tiga anak. Mereka tugas di Maluku Tengah, berdomisili di Ambon, kota kelahirannya, 14 Mei 1973.
Semangat Shirly tak pernah padam. Ia ingin mengakhiri dedikasi sampai titik akhir. Tuhan punya rencana lebih cepat. Pukul 01.48 WIB saya di kontak Ristyer, mengabarkan beliau wafat di RS Masohi Maluku Tengah. Ia menghembuskan nafas terakhir dengan senyum Nona Ambon yang kuat dan tegar.
Saya tidur lebih awal. Sedikit lelah. Seharian memfasilitasi kasus Buah Nenas, dan teman yang anaknya demam butuh ke rumah sakit. Rasanya kita perlu restart hidup ini agar lebih berhati-hati dan penuh persiapan. Kita semua hanya menghitung hari. Entah hari pensiun maupun pulang yang sesungguhnya.
Kita kehilangan Shirly. Ia seperti IB dan tak pernah hadir saat apel pengecekan di Plaza Menza. Entah kapan kita akan ada dalam daftar tak kembali pasca izin bermalam. Hanya Tuhan yang tau. Mereka yang bugar belum tentu belakangan. Bisa jadi mereka yang kurus kerempeng justru lebih awet, bukan karena kurang gizi tapi kemampuan menjaga keseimbangan.
Shirly pergi di awal tahun. Ia menikmati Pohon Natal terakhir dengan sukacita. Melengkapi semua yang selama ini menjadi tradisi spiritual kristian. Tentu saja Ia pergi dengan ucapan kasih, diiringi tetes air mata Dias di ujung handphone. Mewakili keluarga berucap terima kasih pada Keluarga Pasopati yang turut belasungkawa dengan tulus.
Selamat jalan Shirly, kita semua hanya menunggu. Menunggu giliran di terminal. Ibarat menanti jemputan bus tua yang lamban atau bergerak cepat. Dari sini kami melambai dengan doa kecil agar berkumpul dalam apel lengkap di Plaza Akherat. Kita hanya butuh bekal sebanyak mungkin buat investasi di alam sana. Alam yang kekal, tempat dimana kita akan reuni abadi.
Komentar
Posting Komentar