Kehilangan, Catatan Buat Sahabat Pasopati, Mas Hedik

Oleh. Muhadam Labolo

Kita tak tau harus berkata apa, kecuali melepas kalimat perpisahan sesuai tuntunan agama masing-masing. Dalam sebulan terakhir, kita merelakan Serly, Deddy, Joko, dan Hedik pergi mendahului. Mereka pergi dalam diam, tanpa sapa yang panjang sebagai pengantar.

Hedik Iswanto lahir di Jember, 1 November 1973. Satu dari empat bersaudara, tugas di Tulungagung bersama Wahyd. Ia punya generasi pelanjut, Ahmad Masda Reza Fahlevi, Angkatan 30, yang sekarang jadi ajudan Wakil Bupati Tulungagung.

Dulu, Ia paksakan diri bertemu di Kampus Jakarta. Urus anaknya masuk Manglayang. Saya bersikeras melatih CAT hingga rangking 5 besar se-Jatim. Waktu lulus, Hendik mampir di rumah buat sekedar terima kasih. Sama seperti anak Bu Eny-Budi asdaf Banyuwangi, yang akhirnya lulus di putaran kedua. 

Sejak kelulusan anaknya, Hedik buat bimbel bantu anak-anak purna masuk Manglayang. Saya kirim trainer alumni Kemenpan. Dia selalu melapor berapa yang lulus dan gugur tiap kali dibuka pendaftaran. Tapi beliau tak selalu beruntung, kadang ponakannya sendiri gugur di tahap tertentu.

Agustus tahun lalu, Ia ingin mampir yang ketiga kali, namun saya keluar kota. Ia japrian mengabarkan kerjaannya yang sering tak beraturan. Tak pernah sedikitpun Ia mengeluh soal diabetes yang mulai merusak tubuhnya. Kabar soal itu justru dari Wahyd Masrur di Tulungagung.

Hedik berada dinomor 295 dalam Kitab Kenang-Kenangan Pasopati. Diatasnya ada Heber Tambunan yang tugas di Tapteng, dan dibawahnya ada Hendri Perez, tugas di Jakarta. Hedik, pasopati ke 77 yang pergi mendahului. Tak ada angin penanda, mereka pergi begitu cepat.

Selama di Manglayang, Hedik terkesan dengan rutinitas apel dan makan. Hidupnya seakan diborgol oleh dua pekerjaan monoton itu. Seperti kawanan ternak yang tiap hari diberi makan, lalu diperiksa satu persatu untuk kemudian esoknya diberi makan kembali.

Sayangnya, hingga Hedik pergi Ia tak pernah menceritakan empat rahasia menjadi pemimpin sukses sebagaimana yang Ia janjikan dalam kata kenangan. Sesuatu yang perlu dicari agar tak penasaran. Tapi Ia mensyaratkan mereka yang ingin jadi pemimpin sebaiknya pernah jadi Danton Praja.

Kepergian Hedik dkk membawa kita pada lamunan; bagaimana bila esok kita yang pergi. Kata sastrawan Sadikin, kata bila bukan ancaman, melainkan kesadaran resiko. Ia mengajarkan manajemen resiko dalam hidup sehari-hari, bahwa kehilangan bukan soal jika, tapi soal kapan.

Perlahan kita mulai menyadari bahwa waktu bukan sumber daya yang tak terbatas. Bahwa kehadiran sahabat terdekat yang selama ini kita anggap pasti rupanya hanya sementara. Kita dipaksa merenung tentang kehilangan di luar batas nalar.

Kehilangan yang hanya sebentar kita bicarakan, tapi nyata terjadi. Kehilangan yang mendorong kita berpikir ulang agar hadir bersama orang-orang terkasih. Sebelum kita benar-benar tak berjumpa lagi dengan esok. Dan mungkin disitulah kita mesti mencintai tanpa perlu menunggu kehilangan.....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seri: Kajian Filsafat Ilmu Pemerintahan

Sejarah Singkat Luwuk

Memosisikan Mahakarya Kybernologi Sebagai Ilmu Pemerintahan Berkarakter Indonesia[1]