Mengenang Sahabat Pasopati, Deddy Friadie & Joko Priyanto

Oleh. Muhadam Labolo

Deddy dan Joko rasanya punya perangai yang relatif sama. Sedikit bicara, tenang, perasa,  halus, menyenangi gurauan, dan jauh dari publisitas. Mereka menggeluti dunia birokrasi dalam cara yang jamak, laksanakan hingga capai suhu tertentu.

Deddy lahir di Banjarmasin, 28 Juni 1974. Beliau anak pertama dari tiga bersaudara. Meninggalkan seorang istri dan dua putra. Keduanya tamat SMA dan sedang berjuang ke perguruan tinggi. Deddy bertugas sebagai Kabag Pemerintahan di Kota Banjarmasin.

Saya berkali-kali mampir ke Kalsel atas undangan Teuku Dahsya, namun jarang ketemu Deddy. Sama sulitnya ketemu Minggu Basuki walau disana pas hari minggu. Minggu aktif di group dan sering japrian, namun Deddy absen. Mereka tugas di kota yang ramai. Sama sibuknya dengan kepala daerah.

Deddy yakin betul bahwa akar pendidikan selalu pahit dirasakan namun berakhir manis. Itu beliau katakan lewat kesan di buku kenangan. Kendati Ia sendiri harus puas di eselon tiga di akhir hidupnya. Ia telah berjuang keras sebagaimana yang lain, sampai harus merayap punggung.

Deddy sulit melupakan kenangan di Manglayang. Ia curahkan itu dalam kesan yang bercampur-aduk. Ada senang, dongkol, marah, gondok, cape, rindu, bingung dan senyum membentuk sketsa lukisan yang lucu diceritakan namun jera diulangi.

Deddy pergi lewat kabar singkat. Tiga hari sebelumnya Musridiansyah mengabari Ia masuk rumah sakit akibat serangan jantung. Rencananya akan pasang ring agar stabil seperti Danang, Elfin, Rahmat dll. Malangnya Ia tak tertolong di hari keempat. Jantungnya melemah dan tak berdegup lagi. Ia pergi.

Joko Priyanto lahir di Jakarta, 29 Juli 1974. Ia anak keenam dari delapan bersaudara. Joko Priyanto termasuk pemuda ting-ting, sama dan sebangun dengan Bang Ambia. Ia tak meninggalkan ahli waris kecuali keluarga besarnya. Keluarga besar Pasopati dan keluarga aslinya di Kendari. Joko hidup dengan privasi.

Walau namanya Joko Priyanto tapi Ia asdaf Sulawesi Tenggara. Ia lama tugas di kendari lalu pindah ke kementrian desa, dibawah kontrolir mantan Dirjen Pemberdayaan Desa, Sugito Jaya Sentika. Ia jarang berbaur walau tugas di Ibukota Negara. Sesekali foto bersama. Sugito suka bercerita soal feminisme beliau sehari-hari di kantor. Lucu.

Joko Priyanto menikmati suka-duka selama di Manglayang. Kesan itu menempel kuat dibenaknya. Ia benar-benar berusaha melawan lupa. Sama seperti yang lain. Hanya itu rasanya yang bisa menghangatkan suasana setiap kali reuni tipis-tipis di kantor maupun dikampungnya.

Kondisi Joko terakhir dikabari oleh direkturnya di Kemendes. Di forward ke saya oleh Rafdinal. Kondisinya kritis sejak 4 hari lalu. Penyakitnya susah dihafal, hipoglikemia-helena-ensefalopati-hepatikum. Kata Mbah Gugel, dua kondisi medis serius berkaitan dengan penyakit hati kronis yang menyerang otak.

Teman-teman di Sultra kalang kabut mencari RS Bahteramas buat bezuk di Kendari. Beliau berada di titik kritis, koma berjam-jam dan berakhir kemaren, 25 Januari 2026, pukul 16.04. Joko tak sempat berpamitan dengan kawan-kawan sekalipun mungkin Ia pulkam untuk periksa kesehatan.

Badan Joko sejak dulu sampai sekarang termasuk ideal, apalagi eks Binjas yang sehari-hari kerjanya jadi malaikat subuh. Mereka korps sipil yang ditakuti selain Korps Hijau Menwa dan Polpra. Binjas punya urusan mengacak-acak praja yang malas olga. Mereka bisa mengobrak-abrik tempat tidur dan barisan aerobik.

Deddy dan Joko pergi dalam kabar dan jarak yang pendek. Sama-sama lahir di tahun 1974. Lebih muda dua tahun dari saya. Rupanya Tuhan tak pilih siapa senior dan yunior, semua punya jatah yang telah digariskan di _lauhil mahfuz._ Mungkin tugas kita hanya berupaya meregangkan sedikit otot agar lebih lama hidup seraya berdoa padaNya.

Saatnya kita perlu membuang malas dengan mengatur waktu. Kita hanya perlu menyeimbangkan persentase yang masuk dan keluar. Mengatur pola makan, tidur, dan istrahat. Saatnya menjaga ritme hidup agar benar-benar berkualitas dalam relasi vertikal dan horisontal. Teruslah bergerak hingga kayuhan kita berhenti total.

Kematian sesuatu yang bersifat kodrati. Ia mutlak akan kita hadapi. Tak perlu menjadi beban pikiran. Cukup dilalui dengan amal sholeh. Agar tak terlalu gentar, Epicurus nasehati, kematian sama halnya dengan tidur, suatu proses hilangnya kesadaran panjang dibanding sekedar tidur biasa.

Walau begitu, kecemasan akan kematian punya dampak positif, menuntun kita pada aktivitas kebaikan. Ia melahirkan semacam kesadaran moral _(conscience)_ untuk berbuat baik. Kematian mengingatkan kita pada hidup yang lebih panjang nan abadi di kelak hari. Sebuah tempat yang dilukiskan serba ada lewat tuntunan religi.

Selamat jalan Deddy Friadie dan Joko Priyanto, semoga Allah swt menerima amal ibadah kalian, menempatkan di tempat paling indah, serta menguatkan keluarga untuk terus bergerak. Kita tak tau dinomor berapa akan tertera di pengumuman Group Pasopati. Kitapun tak tau siapa yang akan menuliskan dan menutup akhir hidup. Hanya Tuhan yang tau.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seri: Kajian Filsafat Ilmu Pemerintahan

Sejarah Singkat Luwuk

Memosisikan Mahakarya Kybernologi Sebagai Ilmu Pemerintahan Berkarakter Indonesia[1]