Mengenang Acim Dartasim; Survivalitas

Oleh. Muhadam Labolo

Acim Dartasim, Pasopati kelahiran Majalengka, 6 April 1972 punya banyak cerita. Ia anak ke 2 dari 4 bersaudara. Asdaf Jawa Barat yang menghabiskan lebih separuh hidupnya di Jawa Timur, Mojokerto.

Di Manglayang, Acim pernah jadi Ketua Kontingen Jawa Barat. Mengurus dan melayani kepentingan teman-temannya. Ia lincah-meliuk kemana-mana agar urusan beres tanpa kendala. Apa saja di tempuh dengan caranya.

Menurutnya, dengan ukuran tubuh alakadarnya justru menguntungkan. Jarang kena sentuhan senior di hati maupun ulu hati. Ia berselancar kesana-kemari tanpa harus berurusan dengan Binjas, Satgap, Darmapati dan Polpra swasta.

Ia mengandalkan tubuh yang mini untuk survive. Tapi justru disitulah masalahnya. Ia berhadapan dengan banyak aral ketika tugas dilapangan. Ia kurang awas dengan banyak hal hingga berurusan dengan perkara hukum.

Ia sangat percaya diri. Satu modal yang kini tak banyak dimiliki. Ia tak pusing dengan sekelilingnya, yang penting survive. Baginya, semua masalah seberat apapun akan berlalu oleh waktu. Cukup menunggu saja. Pesannya di Buku Kenangan.

Waktu perwakilan Ombudsman dibuka di daerah, Acim mendaftar dan terpilih sebagai salah satu anggota. Ia seruangan dengan Alvin Lie, mantan anggota DPR RI Partai PAN yang kemudian menghentikan langkahnya akibat sejumlah kasus.

Sepanjang berkarier disitu, Acim menikmati fasilitas yang layak. Mulai tunjangan dan mobil dinas. Ia tak peduli lagi dengan status kepegawaiannya, sampai kemudian Ia diberhentikan tidak hormat. Ia tak mengira harus kembali ke Pemkota Mojokerto.

Dengan pangkat dan golongan pas-pasan Ia kembali ke habitat birokrasi. Selama ini Ia tak peduli dengan kenaikan pangkat dan golongan. Dari jabatan cukup bagus ke level bawah tentu membuat Ia hampir kehabisan akal.

Efek dari bertahan itu membuat Ia tersangkut dengan calon ASN di Mojokerto. Ia juga terlilit hutang disana-sini yang kemudian dibantu-selesaikan oleh sahabat Pasopati di Mojokerto. Bukan sekali, namun berkali-kali. Tidak kolektif, juga perorangan.

Waktu berstatus DPO, saya bujuk agar segera melapor ke Polresta Mojokerto. Saya kirim kliping koran yang di share teman-teman. Saya sarankan tak perlu bersembunyi. Makin cepat selesai makin baik. Jangan jadi DPO seperti kasus beberapa alumni dari angkatan lain. 

Acim setuju. Tapi Ia mensyaratkan agar SPP anaknya selama 3 bulan terakhir dibantu selesaikan. Saya sepakat dengan syarat, kirim foto setibainya di Polresta. Ia minta Abdurahman Tuwo kirim fotonya, sekalian ingatkan janji saya. Janji saya penuhi.

Di Lapas, Ia rajin minta bantuan kawan-kawan. Pernah saya tanya sambil guyon, berapa bantuan kawan-kawan tiap bulan selama di Lapas? Katanya, sekitar 6-7 jt/bulan. Saya bilang, syukurlah Cim, itu melebihi gaji pokok saya yang cuma 6 jutaan. Ia senyum.

Sengaja saya tanya karena Ia komplain selama di Lapas tak dikunjungi Pasopati. Padahal sebelum, didalam dan keluar Lapas tetap diperhatikan teman-teman dengan dan terpaksa. Begitu curhat beliau ke salah satu teman.

Selepas dari Lapas Acim ketemu kami. Ia jadi pekerja saham dan mohon disupport. Saya persilahkan Ia persentasi didepan oligarki Pasopati di RM Cerita Rasa. Kelakar saya, sebaiknya pakai SPG cantik supaya Om-Om dan Tante-Tante Pasopati tertarik. Kalau hanya begini mereka bosan.

Awal 2025, Ia minta bantuan melunasi biaya wisuda anaknya. Kami selesaikan di group pengurus. Anaknya di wisuda, dan terangkat jadi asisten dosen di Undip. Muhammad Akram, anak sulung. Anak gadisnya kerja di salah satu perusahaan swasta di Jakarta.

Untuk survivalitasnya Acim perlu dicontoh. Ia tak malu membekali diri agar bertahan hidup selepas dari Lapas. Ia minta bantuan menyiapkan surat-surat, sertifikat keahlian, dan akses ke teman-teman yang punya jaringan. Semua difasilitasi walau satu dua kawan merasa terganggu.

Terakhir, Ia minta bantu buatkan rekom agar lulus sebagai mediator hukum. Semacam penyelia restorasi justice. Ia lulus dan berpraktek di salah satu kabupaten. Acim mulai sibuk, dapat orderan dan honor yang membuatnya lega. Acim bilang, alhamdulillah saya sudah menyelesaikan 2-3 perkara dalam sebulan.

Saya bersyukur, tugas saya akan lebih ringan buat urus yang lain. Acim pernah minta saran untuk daftar jadi calon Ombudsman Jakarta. Saya bilang, sebaiknya tak perlu, menimbang rekam jejakmu pasti terbaca di file Ombudsman. Ia bersikeras. Dan, akhirnya tak lulus.

Kamis kemaren, 20 Januari, pukul 01.40, saya ditelpon dua kali oleh Ferdinan. Saya telah tidur pulas. Subuh terlihat micall pak Sekjen Bawaslu dan japrian Harimurti. Keduanya mengabarkan kondisi Acim yang telah pergi selamanya.

Ia terakhir silaturahmi ke Mas Hari di kantor Bawaslu. Selesai itu turun makan di Warung Pecel Lele sekitar situ. Acim rupanya tak sempat makan ketika tiba-tiba terantuk dan jatuh menimpa lantai paping blok. Penjual Pecel Lele bingung. Ia berinisiasi melacak nomor terakhir dihandphone Acim. 

Harimurti terkoneksi. Ia ditolong walau nyawanya tak bisa diselamatkan. Acim wafat sebelum tiba di RSCM. Ia meninggalkan tiga anak dari beberapa istri. Saya hubungi anaknya atas bantuan Abd Tuwo. Acim di urus Ferdinan, Hari, Eko, Beny, Soni, Rizky dll di RS dan Polres Tana Abang.

Mereka selesaikan berkasnya, dan antar via ambulance ke Majalengka. Saya, Yadi, Jajang, Iwan, Yatno, dan Aminuddin menunggu dikampungnya. Dirumah tua ibunya yang baru meninggal September tahun lalu tak seorangpun menanti. Kami rupanya ditunggu di masjid lewat kata pengantar duka.

Tak lupa dititip bantuan Pasopati pada anak-anaknya. Maklum status Acim sebagai duda. Pemakaman dilaksanakan pukul 20.00 lepas isya. Sudah 2 sahabat Pasopati yang saya hadiri dimakamkan malam hari. Alm Haris Kariming dan Acim Dartasim. Gelap dan sunyi.

Acim punya keahlian survive walau harus menyimpan luka dan malu. Ia tak segan-segan meminta agar bisa bertahan. Kita maklumi sebagai manusia biasa walau kerap membuat jenuh beberapa teman. Saya sering menyarankan, terserah teman-teman saja, semampu dan seikhlasnya.

Terlepas kekurangannya, Acim mengajarkan kita soal kemampuan beradaptasi. Hidup dalam jarak lebar antara dia dan kaum milenial. Ia hidup nomaden agar mampu mengayuh hingga lelah. Dan Ia kelelahan di tikungan Bawaslu, malam hari, selepas mencari peluang pada salah satu sahabatnya, Hari.

Kini Ia tak merepotkan lagi. Ia memberi pelajaran untuk terus hidup tanpa melihat ke belakang. Ia memperlihatkan cara Ia maju, walau untuk itu Acim mesti berkorban perasaan. Kadang Ia dapat, dilain waktu Ia bahkan hanya mendengar nasehat dan cerita reunian. Tapi Ia tetap tersenyum dengan mental baja.

Selamat jalan kawan, kami mungkin saja kembali ke titik nol. Butuh bertahan walau dengan jalan terseok-seok. Menurut keyakinan saya, bila Acim tetap hidup, Ia lebih mirip Bahlil. Seorang yang tumbuh cakap dan percaya diri karena pengalaman hidup. Ia tak peduli kritik dan ijazah asal punya keahlian dan sedikit tebal muka, dia pasti terpakai dan sukses.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seri: Kajian Filsafat Ilmu Pemerintahan

Sejarah Singkat Luwuk

Memosisikan Mahakarya Kybernologi Sebagai Ilmu Pemerintahan Berkarakter Indonesia[1]