Postingan

Menyiapkan Kepemimpinan Pemerintahan

Oleh. Muhadam Labolo Dua kandidat terbaik secara resmi diumumkan partai sebagai calon presiden Indonesia (2024-2029). Publik menunggu sisanya sebagai pelengkap kompetisi. Bisa jadi Anies, Ganjar, Prabowo dan lainnya. Episode terakhir tentu tinggal menanti calon wakil presiden, sekaligus menguntak-atik pasangan agar merepresentasikan kemajemukan identitas, idiologi maupun kultural. Menyiapkan pemimpin bukan perkara gampang. Idealnya disiapkan sejak tumbuh hingga berkembang. Di negara monarchi pemimpin cukup ditunggui brojol dari rahim pendahulunya (was born) . Legitimasinya bersifat tradisional. Di negara non monarchi pemimpin mesti dikembangkan (was created) lewat mekanisme partai politik. Legitimasinya dapat bersifat rasional maupun kharismatik.  Logikanya, semakin banyak partai semakin banyak stok kepemimpinan. Oleh sebab kekuasaan termasuk sumber daya langka, maka semakin ke puncak semakin padat kompetisinya. Berebut posisi kepala desa tentu tak seriuh meraih posisi presiden....

Eksistensi Kebenaran Alternatif

Oleh. Muhadam Labolo Kini, kebenaran faktual seakan menjadi satu-satunya kebenaran akhir. Sains dan modernitas menjadikan kebenaran faktual sebagai penanda relatif. Tanpa fakta, semua gejala yang diyakinkan ke muka kita hanya omong kosong dan fatamorgana. Sesuatu yang tampak dari kejauhan menjanjikan, namun nihil saat di sentuh-genggam. Tanpa fakta semua pernyataan dan dielektika bisa beraneka konsekuensi. Pendek kata, setiap kebenaran di tuntut disertai fakta. Tanpanya bukan kebenaran. Fakta adalah jenis kebenaran penting bagi manusia. Politik tanpa fakta tentu menyesatkan. Pengadilan minus fakta tak lebih dari sandiwara. Sains nirfakta tak ubahnya gosip yang membahayakan. Bahkan media tuna fakta hanyalah projek propaganda  hoax  yang membingungkan jagad raya. Karenanya, sejak lama fakta di percaya sebagai kebenaran sekaligus prestasi modernitas (Hardiman, 2023). Tapi adakah kebenaran di luar kebenaran faktual yang mesti diterima kini dan akan datang? Bila kebenaran faktual m...

Puasa dan Pemurnian Jiwa

Oleh. Muhadam Labolo Puasa, dalam kontektualisasi religi mengandung aneka makna. Satu diantaranya pemurnian jiwa (nafs). Jiwa diasumsikan tercemar dosa saban tahun. Entah itu dosa individu maupun kolektif yang berefek-tular pada lingkungan. Lingkungan terpolusi itu bisa jadi domestik, komunitas, maupun organisasi. Sumbernya bisa macam-macam, salah satunya kecenderungan untuk menilai (Subhi, 2018). Kecenderungan menilai memang sulit diatasi. Apalagi berhadapan dengan gawai. Hidup kita seakan dikendalikan oleh luapan informasi hingga terasa sunyi dalam keramaian, namun ramai dalam kesunyian. Isi kepala kita dijejali berbagai isu. Sedemikian melimpah hingga kesulitan terbesarnya  menapis mana sampah dan mana nutrisi, mana kulit dan mana isi, mana kebenaran dan mana kepalsuan (hoax).  Terkadang semua di telan bulat-bulat. Refleks kita ingin menilai dalam bentuk tanggapan. Menilai adalah kerja pikiran, dan karenanya penilaian berarti produk pikiran. Agar telaga kesadaran kita jer...

Krisis Nilai

Oleh. Muhadam Labolo Isu demi isu menggerogoti nilai bangsa ini. Entah itu genk motor, pembunuhan anggota keluarga hingga perkelahian anak muda yang menyeret konsentrasi publik ke soal korupsi dan pencucian uang. Awalnya biasa, namun efek viral teknologi informasi mengubah segalanya menjadi perkara negara. Insiden kecil menjadi konsumsi publik secara cepat dan masif. Kelambanan dapat menuai kritik yang membuat kita terus merespon apa yang terjadi dari waktu ke waktu. Gambaran dipermukaan menunjukkan terjadinya degradasi nilai. Dalam makna lain, demoralisasi. Lenyapnya nilai bermakna hilangnya kualitas diri atau penghargaan terhadap lentera penuntun tingkah laku seseorang (Giddens, 1998). Dalam imaji kolektif bangsa, sirnanya kualitas hidup berarti punahnya karakter yang menjadi ciri khas bangsa. Hasil riset pada bangsa-bangsa maju umumnya mentransmisi nilai-nilai positif seperti kejujuran dan tanggungjawab ke generasi selanjutnya, dan bukan sebaliknya, dusta dan khianat.  Konflik s...

Persekolahan Milyarder

Oleh. Muhadam Labolo Sebuah potongan kliping di media sosial menampilkan empat perguruan tinggi berpotensi melahirkan milyarder di Indonesia. Perguruan tinggi itu di sebut sekolah bisnis, walau faktanya aset pemerintah yang merupakan lembaga pendidikan keuangan, keamanan, pertahanan dan pemerintahan. Penggiringan opini tanpa data semacam itu dimaklumi sebagai emosi sesaat atas kasus oknum petugas pajak yang hidup gemerlap. Asbabnya sepele namun meluas kemana-mana. Narasi pendek soal potensi melahirkan milyarder tentu membahagiakan. Setidaknya iklan gratis yang dapat mendorong optimisme peminat, sekalipun nyatanya lebih banyak yang menyekolahkan legalitas pegawainya di bank dalam bentuk pinjaman-hutang. Mungkin bagi mayoritas petugas pajak tak sulit menambah income, namun bagi seorang polisi, tentara dan pamong jujur, satu-satunya cara adalah menggadaikan legalitas profesinya untuk bertahan dari tahun ke tahun. Doktrin senioritas dalam sekolah kedinasan Pamongpraja misalnya, keliru and...

Hak Kaya & Etika Publik

Oleh. Muhadam Labolo Setiap kita pada umumnya memilih kaya dibanding miskin. Imaji kaya dideskripsikan sebagai seseorang yang memiliki harta banyak dalam bentuk properti, investasi maupun sumber daya bernilai. Kaya diasosiasikan pula kemampuan seseorang melakukan segala hal tanpa batas karena dukungan finansial. Kekayaan berhubungan dengan status sosial, kekuasaan, dan prestise dalam struktur sosial.  Sebaliknya, kaya melawan realitas miskin. Miskin digambarkan minus sumber daya ekonomi. Kaum papa adalah mereka yang tuna akses pada kebutuhan dasar. Ragam kemiskinan paling ekstrem dipengaruhi aspek struktural dan kultural. Hal pertama berada di pundak pemerintah, sisanya merupakan mentalitas masyarakat yang membutuhkan intervensi kolektif (Nurhazanah, 2023). Perspektif kaya dan miskin memiliki banyak muka. Dalam wajah religi, kaya dan miskin bergantung pada kesholehan penganutnya. Kaya misalnya, dinilai bila mampu mempertanggungjawabkan cara memperoleh dan menggunakan harta buat keb...

Tanggungjawab Civil Servant

Oleh. Muhadam Labolo Gouldner dalam Thompson (1967) melihat administrasi dalam dua perspektif utama, yaitu sistem alamiah dan rasionalitas. Alamiah, karena administrasi tumbuh dalam realitas sosial dimana-mana. Rasional, sebab administrasi adalah upaya sadar mencapai tujuan tertentu. Administrasi dalam linguistik latin menunjuk kata ad-ministrare, bermakna to serve, melayani. Kata ministrare berkaitan dengan minister. Akar kata minister mengandung serabut minis, artinya less, kurang. Maknanya, orang yang melayani (servant) memiliki posisi lebih rendah di banding mereka yang dilayani. Jadi konsep administrasi sebetulnya menunjukkan relasi yang melayani dan yang dilayani tak setaraf. Ketidakseimbangan itu menimbulkan disharmoni civil servant dalam pelayanan. Dalam relasi spiritual, konsep ministr y adalah Tuhan yang dilayani (zat tertinggi). Dengan demikian pelayanan bukanlah proses exchange yang didasarkan oleh rasionalitas semata, melainkan supra-rasional (transedental). Disi...