Postingan

Reuni Jateng di Solo

Oleh. Muhadam Saya mulai menyenangi reuni. Bukan sebab Ketua Pasopati. Karena ingin mengenal semua kawan lebih dekat. Mumpung masih hidup. Dulu tak sempat. Terpisah oleh perlimaan, kelas, barak, darma, wira, dan sena. Saya diundang Mas Eko Supriyanto. Dijapri dua minggu sebelumnya. Eko pernah sebarak di Nindya. Bareng Bahtiar dkk. Eko sekarang suka jalan sama istri mungilnya. Sriatun. Sampai ke ujung Sumatera. Saya juga ajak istri. Tapi tak mau bila urusan alumni. Mengganggu katanya. Tak sefrekuensi. Ditinggal sendiri kalau sudah ketemu kawan. Tak seletting katanya. Pendeknya banyak alasan. Biarlah. Hitung-hitung lebih merdeka. Bisa punya waktu mewah dengan kawan-kawan. Sekali-kali. Dirumah berdua terus. Anak sudah usia 26 tahun. Punya kesibukan sendiri, plus rajin reunian sesama alumni Gontor. Saya daftar dan bayar registrasi ke panitia. Dijemput Mas Taufiq dan Herdiswijaya di Bandara Adi Soemarmo. Atas perintah korlap Bu Paulina. Lama tak jumpa Mas Taufiq, sejak masalah menimpanya. S...

Menyambut Kemerdekaan ke-81

Oleh. Muhadam Kapan kita merdeka 100% seperti imaji Tan Malaka? Mungkin kita tak perlu bermimpi sesempurna itu. Cukup merdeka di atas 50% sudah hebat. Sebab manusia pada dasarnya telah kehilangan kemerdekaan sejak lahir ke muka bumi. Manusia hakekatnya lahir merdeka. Ia terjajah oleh lingkungannya. Tunduk pada sistem kuasa domestik, pendidikan, agama, masyarakat, hingga negara. Yang tersisa hak-hak dasarnya sebagai human need. Supaya terlindungi dan terlayani, manusia butuh entitas paling kompleks, negara. Lewat seperangkat otaknya, pemerintah menjamin kebutuhan dasar itu. Disitu fungsi primer dan sekundernya muncul (naachstate-welfarestate). Fungsi primer memastikan terpenuhinya hak dasar warga negara. Hak hidup, berbicara, berkumpul, bermusyawarah, berorganisasi, mendapatkan pendidikan dan kesehatan, adalah sedikit contoh dalam ide kesejahteraan dan keadilan (Plato). Sisanya menjadi kebutuhan sekunder yang dapat dipenuhi tak hanya oleh pemerintah, diri sendiri, juga pasar. Menimbang ...

Nasib Koperasi Merah Putih

Oleh. Muhadam Projek nasional kedua paling sensitif saat ini adalah Koperasi Merah Putih (KMP). Menyusul Sekolah Rakyat yang sepi kritik. Belajar dari MBG, persoalan pokok yang mesti dibenahi, bagaimana sepatutnya Ia dikelola, dan bagaimana pengawasan dilakukan. Kita ingin memastikan nasib KMP tak sepahit MBG. Tak hanya mengorbankan tiga petinggi, juga ratusan siswa di sekolah. Hal yang sama, KMP tak perlu memakan korban pengurus dan anggotanya, yang sejak dulu punya patologi di benak masyarakat. Koperasi kali ini membawa semangat heroik, merah putih. Ia meletakkan nasionalisme dan simbol negara. Mungkin 11.000 koperasi lama telah lama dinilai kehilangan nasionalisme. Rapuh karena menyedot modal anggotanya hingga kerontang. Jadul bukan hanya tuna modal, juga kehilangan _trust._  Ratusan koperasi lama kehilangan nyawa. Konon modalnya lenyap dibawa kabur pengurus. Dikampung saya, kantornya pernah jadi hunian hantu, gudang, dan kandang ternak. Padahal sejak 1972 koperasi dibangun deng...

Menza, Cermin Birokrasi

Oleh. Muhadam Menza sekarang, beda. Wajah dalamnya lebih mewah. Dinding korps berlapis tembaga. Tak ada ompreng, hanya piring di meja kokoh. Bising awalnya tetap dengan kharisma kuat. Apalagi saat Dan Upacara berteriak duduk siap. Keheningan menambah sakral. Sejak dulu Menza punya fungsi spesial. Bukan saja ruang berkumpulnya praja lapar, juga ragam karakter bersentuhan. Menyentuh di hati, bahkan sesekali naik ke ulu-hati. Menza suka gaduh sebelum dan sesudah makan. Di Jepang, upacara makan bukan hanya simbol kelas. Juga tradisi dan mitos. Kesalahan mengangkat gelas bisa menunjukkan siapa diri kita, sekaligus mengoreksi tatanan etik dalam struktur sosial yang diwakili. Menza punya mitos demikian. Bagi Muda yang berada di struktur sosial kasta bawah, Menza, praktis tempat menyelesaikan lapar dan dahaga. Sekalipun bukan tanpa konsekuensi. Ia bisa berubah menjadi tempat uji nyali dari energi yang sering tak terkendali. Di Menza, karakter praja bisa terbaca. Dan, Mudapraja punya semacam se...

Jaheri, Sekda Sijunjung

Oleh. Muhadam Jaheri, kawan saya sepenanggungan waktu bimbingan laporan akhir. Dilantik kemaren jadi Sekda Sijunjung setelah lama Plt. Ia lahir di Saning Bakar, dekat Singkarak, Kabupaten Solok, 11 Maret 1973. Waktu praja Jaheri orang perfeksionis. Semua diperiksanya sebelum keluar barak. Tak boleh sedikitpun kurang, hingga debupun tak sudi berkawan dengan sepatunya. Jangan tanya emblem dan atribut, pasti mengkilap. Ia punya bimbingan sama dengan saya, alm Pak Sukamto. Istrinya pensiun sekitar 7 thn lalu sebagai dosen. Hubungannya baik dengan saya, walau menghadapi Pak Sukamto ketika bimbingan bersama Jaheri sungguh mendebarkan. Saya pernah janjian bimbingan bersama Jaheri. Tapi setelah kasus lembar perlembar laporan akhir kami di lempar beterbangan seperti daun pohon kapas, kami mengambil jalan masing-masing agar tak terlalu dipermalukan. Deadline registrasi laporan akhir sisa tiga hari. Bagian akademik sudah keluarkan maklumat. Kami tak bisa tidur di barak memikirkan bagaimana agar s...

Catatan Kaki dari Shang Hai-China

Oleh. Muhadam Saya dan 34 Mahasiswa Doktoral Angkatan 14 ke Shang Hai (16-19 Mei 2026). Salah satu provinsi dengan GDP tertinggi di China (5,67 trliun RMB/814 milyar USD). Dihuni lebih 25 juta penduduk. Sedemikian maju, Shang Hai lebih merupakan negara ketimbang provinsi bila dibanding negara-negara kecil di Eropa, Afrika, Timur Tengah dan Asia.  Kota Shang Hai tak hanya ramai, juga padat dengan gedung menjulang. Tersusun oleh flat, apartemen, kondominium, dan aparthouse. Urbanisasi telah mengubah lanskap kota biasa menjadi metropolitan selain Guangdong, Jiangsu, Shandong dan Zhejiang. China mengandalkan ekonomi pada provinsi tersebut, termasuk kawasan ekonomi khusus seperti Shenzhen. Shenzhen, desa nelayan tak terurus itu disulap menjadi pusat teknologi global. Berbatasan dengan Hongkong di Provinsi Guangdong. Sebagai Silicon Valley , Shenzhen menjadi simbol inovasi teknologi, manufaktur dan gaya hidup modern. Maklum, daerah semacam itu merupakan Kota Hantu jaman dulu yang diubah ...

Perbandingan Sistem Demokrasi vs Otoriter

Oleh. Muhadam  Apakah sistem politik demokrasi punya masa depan bagi kemakmuran warganya? Pertanyaan klasik itu selalu muncul manakala demokrasi tak kunjung memperlihatkan kematangan, apalagi kesejahteraan. Ia sering di tuduh hanya ilusi disertai kegaduhan. Faktanya, kendati lebih 80% negara-negara di dunia ramai mengklaim sebagai negara demokrasi, hidupnya tak lebih makmur dengan tingkat pertumbuhan ekonomi di bawah 5%. Negara-negara itu bahkan mengalami arus balik ketika berpapasan dengan otoritarianisme. Disisi lain, negara-negara non demokrasi seperti Iran, China, Korut dan Rusia justru memperlihatkan kekuatan dan masa depan menjanjikan. Demokrasi dengan semua kelebihan dan kelemahannya mengalami persoalan akut termasuk Amerika. Salah satu kekuatan negara-negara non demokrasi terletak pada integritas pemimpinnya. Mereka memang tak lahir dari mekanisme suara rakyat langsung, tapi ditentukan oleh elit terdidik dan berstandar moral tinggi, bukan rakyat bodoh dan kelaparan. Di seju...