Jaheri, Sekda Sijunjung

Oleh. Muhadam

Jaheri, kawan saya sepenanggungan waktu bimbingan laporan akhir. Dilantik kemaren jadi Sekda Sijunjung setelah lama Plt. Ia lahir di Saning Bakar, dekat Singkarak, Kabupaten Solok, 11 Maret 1973.

Waktu praja Jaheri orang perfeksionis. Semua diperiksanya sebelum keluar barak. Tak boleh sedikitpun kurang, hingga debupun tak sudi berkawan dengan sepatunya. Jangan tanya emblem dan atribut, pasti mengkilap.

Ia punya bimbingan sama dengan saya, alm Pak Sukamto. Istrinya pensiun sekitar 7 thn lalu sebagai dosen. Hubungannya baik dengan saya, walau menghadapi Pak Sukamto ketika bimbingan bersama Jaheri sungguh mendebarkan.

Saya pernah janjian bimbingan bersama Jaheri. Tapi setelah kasus lembar perlembar laporan akhir kami di lempar beterbangan seperti daun pohon kapas, kami mengambil jalan masing-masing agar tak terlalu dipermalukan.

Deadline registrasi laporan akhir sisa tiga hari. Bagian akademik sudah keluarkan maklumat. Kami tak bisa tidur di barak memikirkan bagaimana agar segera ditandatangani lembar persetujuan. Mesin tik diruang belajar sudah sepi karena banyak praja telah di acc dosen pembimbing. Mungkin tinggal kami yang tersisa.

Tiap kali menghadap kami harus mengumpulkan keberanian luar biasa. Pak Kamto, ahli keuangan, dosen yang detil, hingga titik koma diperiksanya. Suaranya tinggi penuh kritik. Mental kami ciut. Lutut saya serasa lumpuh. Wajah Jaheri tegang seperti patung polisi diperempatan Mabes Polri.

Saya menahan napas. Jaheri bahkan seperti tak bernapas lagi. Ia duduk setengah kursi seperti Patung Hoegeng, sang polisi legend. Bibir kami kelu seperti mayat hidup, kecuali raga yang disokong oleh sedikit semangat mendaftar ujian. Kami berharap Tuhan turun tangan.

Pak Kanto ngoceh sembari mencoret dan melempar helai demi helai. Kami seperti menghadapi musim gugur dengan suhu yang membuat tubuh perlahan membeku. Ini penghadapan yang kesekian kali, tapi tak kunjung ada tanda-tanda persetujuan.

Kalau handphone, mungkin semangat kami tinggal 20%, low bet. Tapi Jaheri pantang menyerah. Mungkin Ia terbiasa menghadapi yang lebih seram dari itu, pengasuh, senior dan jajaran komando. Sebagai Wirapati Nindya tentu perkara tekanan mental seperti itu bukan soal.

Sehari sebelum pendaftaran kami dengar Jaheri ditandatangani. Ia benar-benar menjadi pemacu jantung. Kami bergegas menghadap Pak Kamto. Tentu dengan wajah memelas. Paslah dengan kondisi puasa yang memperburuk wajah kami dihadapan beliau. Miskin segalanya.

Wajah papa, tubuh lemas, ditambah doa kami yang mungkin sudah sedikit mengancam Tuhan di Bulan Ramadhan itu membuat Pak Kamto akhirnya menandatangani. Kami hampir putus asa membayangkan bila tertunda setahun. Tentu akan jadi aib, menimbang sama-sama pakai tali kurt.

Jaheri punya stabilitas mental yang bagus. Ia birokrat tulen. Taat asas dan aturan. Ia sabar dan sangat protokoler. Takut melanggar sebagai korps praja. Mungkin itu yang membuat sedikit lama baru dilantik jadi sekda. Tapi saya yakin Bupati Sijunjung tak salah pilih. Jaheri punya kemampuan memadai untuk menghadapi setiap masalah.

Selamat Bertugas Uda Jaheri...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Singkat Luwuk

Seri: Kajian Filsafat Ilmu Pemerintahan

Eksistensi IPDN, Tinjauan Historis, Filosofis, Normatif dan Relevansi Kekinian