Menza, Cermin Birokrasi
Oleh. Muhadam
Menza sekarang, beda. Wajah dalamnya lebih mewah. Dinding korps berlapis tembaga. Tak ada ompreng, hanya piring di meja kokoh. Bising awalnya tetap dengan kharisma kuat. Apalagi saat Dan Upacara berteriak duduk siap. Keheningan menambah sakral.
Sejak dulu Menza punya fungsi spesial. Bukan saja ruang berkumpulnya praja lapar, juga ragam karakter bersentuhan. Menyentuh di hati, bahkan sesekali naik ke ulu-hati. Menza suka gaduh sebelum dan sesudah makan.
Di Jepang, upacara makan bukan hanya simbol kelas. Juga tradisi dan mitos. Kesalahan mengangkat gelas bisa menunjukkan siapa diri kita, sekaligus mengoreksi tatanan etik dalam struktur sosial yang diwakili. Menza punya mitos demikian.
Bagi Muda yang berada di struktur sosial kasta bawah, Menza, praktis tempat menyelesaikan lapar dan dahaga. Sekalipun bukan tanpa konsekuensi. Ia bisa berubah menjadi tempat uji nyali dari energi yang sering tak terkendali.
Di Menza, karakter praja bisa terbaca. Dan, Mudapraja punya semacam sensor pelacak karakter paling sensitif. Salah pilih meja bisa merusak susunan saraf motorik. Mungkin itu, Muda suka bingung tiap kali masuk Menza, persis Meerkat di gurun pasir.
Bukan disengaja, tapi memaksimalkan kerja panca indera. Beberapa menggunakan indra keenam walau tak banyak membantu. Sisanya pasrah dipandu insting hingga diizinkan duduk di kursi kosong. Semua butuh effort.
Sebagian besar Praja mengadu nasib di Menza. Beruntung bila kepala meja punya karakter positif. Bisa dapat limpahan rahmat dan karunianya. Isi ompreng bertambah, selain perkenalan yang membangkitkan semangat '45.
Bagi yang kurang beruntung, Menza memperlihatkan karakter sejatinya. Ia menempa kemampuan kognisi mengingat silsilah keluarga, juga jumlah anak tangga dan Teh Lilis. Menza memberi ketahanan fisik dan psikis yang sering melelahkan mental.
Tak sedikit Praja menyerah hadapi Menza. Itulah mengapa makan di Menza menjadi pilihan dilematis. Ia menjadi semacam daya juang menguji kemampuan Praja menyelami ide klasik Weber; hirarki, impersonal, formalisasi, dan spesialisasi.
Menza memberi pelajaran hirarkhi. Hanya Kelas Wasana yang menentukan dimana posisi birokrasi Nindya, Madya, dan Muda. Tanpa keramahan hati mereka, tak ada kemewahan saat makan kecuali koreksi dan doktrin.
Menza memperlihatkan kegagalan relasi impersonal Weber. Lebih nyaman bila terkoneksi secara personal. Setidaknya seasal kontingen, lewat papan nama. Menza mengajarkan bagaimana politik identitas lebih menolong di tengah relasi yang kita sangka rasional dan bijak.
Menza mengajarkan bagaimana formalisasi Weber penting dipraktekkan. Kesalahan protokol penghormatan bisa berujung konsekuensi. Pelakunya bisa dituduh pembangkangan, atau deviasi tingkat pertama. Karenanya, formalisasi membaku lewat gerak Praja tiap kali mencapai Menza.
Menza tak lupa mendeskripsikan spesialisasi di meja makan. Ruang berbentuk huruf T dengan kapasitas 5000 praja itu mengelompokkan karakter dengan spesialisasi di sayap tertentu kaum cerdik-pandai (Korps Praja). Simbol kompas moral, tertata kaku seperti minifigur di lemari pajang.
Disisi lain berkumpul kaum naif (helpless). Mereka rela tak pilih dada dan paha ayam demi adik asuhnya yang memprihatinkan karena minim MBG. Mereka penyelamat. Berkorban demi masa depan anak bangsa. Menjadi malaikat sekali-kali. Berupaya menjadi senior baik.
Di sudut lain berkumpul kaum yang sama-sama tak diuntungkan. Wala yamutu wala yahya, antara hidup dan mati. Sama-sama spesialis menghindari masalah dari senior dan pengasuh anti kemapanan sosial. Wajah suram, pilu, diam dan kaku.
Dan, Menza pada akhirnya menunjukkan pada kita, dimana spesialis bandits suka bercengkerama. Hanya praja yang punya sensor dan insting kuat yang mampu mendeteksi dimana mereka bersekutu. Berada di tengah mereka tak hanya kutukan, boleh jadi tempat dimana kita mendapatkan pengalaman spiritual baru.
Menza, cermin dimana prinsip birokrasi kuno dipraktekkan, dulu, bahkan mungkin sekarang. Kita baru paham bahwa pelajaran birokrasi di kelas punya relasi di Menza. Ruang dimana praktikalitas dapat disadari setelah bertahun-tahun Praja mengalami kesadaran dilapangan pemerintahan.
Komentar
Posting Komentar