Reuni Jateng di Solo

Oleh. Muhadam


Saya mulai menyenangi reuni. Bukan sebab Ketua Pasopati. Karena ingin mengenal semua kawan lebih dekat. Mumpung masih hidup. Dulu tak sempat. Terpisah oleh perlimaan, kelas, barak, darma, wira, dan sena.

Saya diundang Mas Eko Supriyanto. Dijapri dua minggu sebelumnya. Eko pernah sebarak di Nindya. Bareng Bahtiar dkk. Eko sekarang suka jalan sama istri mungilnya. Sriatun. Sampai ke ujung Sumatera.

Saya juga ajak istri. Tapi tak mau bila urusan alumni. Mengganggu katanya. Tak sefrekuensi. Ditinggal sendiri kalau sudah ketemu kawan. Tak seletting katanya. Pendeknya banyak alasan.

Biarlah. Hitung-hitung lebih merdeka. Bisa punya waktu mewah dengan kawan-kawan. Sekali-kali. Dirumah berdua terus. Anak sudah usia 26 tahun. Punya kesibukan sendiri, plus rajin reunian sesama alumni Gontor.

Saya daftar dan bayar registrasi ke panitia. Dijemput Mas Taufiq dan Herdiswijaya di Bandara Adi Soemarmo. Atas perintah korlap Bu Paulina. Lama tak jumpa Mas Taufiq, sejak masalah menimpanya. Saya bezuk kerumahnya. 

Herdis camat di Sukoharjo. Ia orang Ciamis yang terperangkap disitu. Sukses beradaptasi. Saya ajak keduanya mampir dirumah makan kuno Solo. Kami bersenda-gurau. Cerita rupa-rupa.

Disekeliling tempat duduk penuh lansia. Mereka reunian juga. Saya bilang, kita akan seperti itu bila Tuhan panjangkan umur. Mengunyah lembut sambil senyum. Kuatir gigi palsu jatuh, nyungsep ke sop buntut. 

Sampai di Novotel sudah sore. Seperti biasa, para pengepul rokok buat group sendiri. Sebagian besar bercengkrama di lobby. Kami diterima EO yang nanti malam MCnya mengocok perut.

Wajah lama nongol satu-persatu. Beberapa harus diidentifikasi via registrasi. Agar yakin, saya konfirmasi lagi ke kawan sekontingen Jateng. Rupanya dia sendiri lupa. Wuallah, angel, angel. Sama-sama amnesia.

Malam di suruh pakai baju kotak-kotak. Rasanya seperti tim sukses, _dress code_ pembeda. Untung di rumah saya punya. Satu warna putih, satu lagi persis bajunya Bu Rini. Suami Mas Karno yang baik hati dari Jogja.

Andai saya pakai merah, pasti dikira suaminya Mba Rini. Lho kok, dua suami satu istri. Pasti ada yang koment begitu di group. Group Pasopati cukup dinamis dibanding group angkatan lain. Sehari tak dibaca sudah full.

Reuni malam dipandu duet Srimulat Gen Y. Lucu. Saya terhibur walau mesti mencerna cepat beberapa kosakata Jowo yang baru di dengar. Tak usah bicara pun, wajah kedua MC sudah jenaka. Bagus diundang lagi.

Dr. Anang Armunanto, Sekda Grobogan buka acara. Ia mengingatkan teman-teman bahwa jadi sekda itu berat. Biarlah Ia yang menanggungnya. Persis film Dylan, 1983. Makin tinggi jabatan makin sulit hadapi tekanan.

Saya sekamar dengan Mas Anang, room 421. Istri dan dua anaknya yang cantik di hotel sebelah. Mba Paulina bilang, padahal kamar kosong ada 5. Jatah yang tak sempat hadir, dan pulang malam. 

Saya diberi waktu yang sama seperti Reuni Jateng di Semarang tahun 2022. Kali ini saya mesti _up date_ jumlah Pasopati. Total 808, kurang 78, putri 5, putra 73, sisa 730, sakit keras 2, di lapas 5, keluar minggu ini 1, sisa 4. 3 di Sulsel, 1 di Kalimantan.

Jumlah doktor terbanyak di semua angkatan, sebanyak 38 orang, di luar Mas Dr. Sucahyo Agung yang baru selesai tertutup di Uncen minggu ini. Jumlah eselon 1 terbanyak, 7 orang plus 2 fungsional setingkat eselon 1.

Ada sekitar 300san eselon dua. Sisanya fungsional dan non job. Ada 35 resain, mengembangkan profesi baru. Saya tak berani melaporkan yang janda dan duda. Kuatir di tarik ke belakang abis acara. Nanya, siapa saja mereka.

Saya laporkan ke Mas Hardi, yang akan pensiun tahun depan sebanyak 16 orang (2027), 12 orang (2028), dan 24 orang (2029) pas pemilu. Mas Slamet Turmudi pensiun pertama Oktober tahun ini. Pasopati pensiun berjamaah mulai 2033.

Saya mengajak teman-teman menginvestasikan diri ke kesehatan. Jasmani dan rohani. Di usia ini kesitu lebih baik. Apalagi anak dan istri relatif mulai stabil. Trend dunia 5 tahun kedepan ada pada digital, green, dan welness.

Hari ini mulai terasa pekerjaan kita diambil IA. Kita juga pelan akan kembali ke alam. Dan di tengah kemajuan teknologi estetik, manusia akan terus memperbaharui dirinya agar tetap sehat walafiat.

Saya menekankan olah raga bila tak ingin minum obat. Atau gunakan stemcell bila ingin regenerasi sel dari sekarang. Dunia kedokteran maju pesat. Di Semarang, para pesohor lakukan regenerasi sel sekalipun telah berusia 70 tahun.

Beruntung saya dan beberapa kawan dapat orasi kesehatan reproduksi dari dr. Ferdinan Sirait di Ternate. Ia banyak beri tips, termasuk bagaimana menurunkan berat badan ideal seperti dirinya.

Saya juga menekankan pentingnya merawat pasangan hidup. Merekalah pengantar kita ke tempat peristrahatan terakhir. Teringat satu dua kawan yang mesti ditunggui karena tak punya kawan dekat kecuali anak yang jauh.

Seperti ulasan Heri Yulianto, tema reuni; kembali mengakar, melangkah bermakna. Mungkin peserta diminta kembali ke kesadaran sebagai manusia yang lahir dari tanah dan akan kembali kesana. Dari tanah pula kesuburan datang. Memberi makna bagi mahluk hidup.

Saya diberi pigura Semar. Tokoh pewayangan berbadan gempal. Sumber inspirasi penuntun hidup, pengayom rakyat kecil, dan keseimbangan kosmis. Walau saya sendiri kurang disiplin menjaga kesimbangan makan, istrahat, dan olahraga.

Lingkar perut saya kalau reuni begini suka nambah dua centi. Teman-teman Kristiani seperti Simon, Ferdinan, James (01) dan adik 05, Thomas dan Eliazar punya tubuh ramping. Mereka Lebih sehat. Semua baju, jas, dan celana pas di badan. 

Mereka puasa intermiten. Tahan makan mulai pukul 17.00 sore sampai pkl 12.00 siang baru makan lagi. Mas Anang makan putih telur tiga butir waktu sarapan, sisanya yang ringan. Tak perlu puasa sebulanpun, tubuh jadi ramping.

Reuni menyuguhkan quiz tebak gambar. Disuru menyebut siapa dalam foto yang sedang jalan jongkok dan digulung. Tentu susah, walau sudah diimingi 500rb oleh Mas Puput dan Mas Anang. Muka praja belepotan tanah. 

Menebak wajah Heri Yulianto pun kedua MC kesulitan. Gambar difoto waktu praja sangat ideal. Orangnya susah ditemukan saat ini karena lingkar perutnya sudah 3x plus pakai kaca mata. Mereka benar-benar kesulitan.

Reuni formalnya hanya semalam. Singkat dan padat. Ditutup lagu kemesraan, bukan hymne abdi praja. Semua kebagian menyanyi. Dari yang hafal teks sampai yang komat-kamit di depan HP buat baca lirik. Seperti calon Sekda Pemalang, Andri.

Andri masih punya anak kecil. Umur 5 tahun. Hebat. Punya mainan. Bikin rindu rumah, seperti punya cucu. Andri dan saya pernah keliling Jateng pakai motor bebek abis sekolah IIP. Kami hampir jatuh karena ngantuk. 

Acara selesai, tapi sesi akhir pindah ke dekat kolam. Dipandu Mas Teguh 01, suaminya Mba Wijayanti. Mereka kompak, bahkan punya group Bu Ibu 01 buat ngerumpi. Lu kenal Veronika ko? Veronika yang Om Strom pu anak. Sampai jam 2 malam baru stop bicara.

Besok sebelum pulang kami diajak ke Kampung Kauman, Pasar Gede, dan Taman Safari. Di Kauman saya belanja 7 kain batik dipandu Bu Antin, pakar batik. Kauman seperti lorong klasik di Eropa dan Shang Hai. Kita serasa hidup puluhan tahun lalu.

Di Pasar Gede saya diajak Mas Anang minum Es Dawet kesukaan artis. Pasarnya tak bau seperti Pasar Minggu bila temani ibu belanja. Harganya murah untuk 5 orang. Hanya 54 ribu sekalipun mesti rebutan kursi.

Di mulut pasar keluar kelompok ibu-ibu Pasopati. Kirain borong baju dan sepatu, ternyata kerupuk. Sebanyak itu, suami mereka jadi korban buruh panggul. Bawain kerupuk nyebrang jalan. Zolim dan sedikit terkutuk.

Di Taman Safari kami foto berulang-ulang. No picture, hoax. Disana kami lunch sambil lihat Singa. Saya jarang lihat Singa, kecuali Singarimbun. Penulis buku Metode Penelitian Survei.

Disana ada Kangguru. Bedanya di Jabar ada Kang Asep, kata Mbah Waluyo. Kami pisah disitu. Saya pamitan sama panitia. Diantar Mas Soeryanto dan Kang Hendis ke bandara.

Saya berterima kasih buat semua. Walau nampak tua dan lelah, namun semangat kalian belum pudar. Saya kira masih perlu reuni berkali-kali. Sampai Tuhan mengabsenkan kita saat pengecekan di reuni selanjutnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Singkat Luwuk

Seri: Kajian Filsafat Ilmu Pemerintahan

Eksistensi IPDN, Tinjauan Historis, Filosofis, Normatif dan Relevansi Kekinian