Mengenang Edwin W Ombuh

Oleh. Muhadam


Edwin lahir di Matungkas, 9 Februari 1974. Ia anak pribumi disitu. Di Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara. Tempat lahirnya banyak Pepaya dan Budidaya Ikan Air Tawar. 

Saya dua kali kesana. Dijamu Bupatinya yang punya Budidaya Ikan Mujair tanpa perlu diberi pakan. Air jernih dari Gunung Klabat jadi sumber energi buat sirkulasi oksigen.

Edwin pernah diangkat sebagai pengasuh di Angkatan 08. Andai Ia mau tinggal sejenak, mungkin karirnya berakhir di kampus. Jadi dosen atau pejabat karier di struktural Kemendagri.

Sejak lima tahun terakhir kesehatan Edwin menurun. Ia di vonis gagal ginjal. Sudah rutin kemoterapi. Saat jumpa di Minut Ia berusaha tegar dengan tubuh yang kian lemah. Kami makan bersama.

Ia bercerita pendek soal penyakitnya. Bupati memaklumi, dan menarik Edwin ke posisi sebagai staf ahli bidang pemerintahan. Sebelumnya kepala dinas. Ia rajin, cekatan, dan pintar berkomunikasi.

Edwin anak kedua dari dua bersaudara. Ia punya tanggungan istri dan tiga orang anak. Yang pertama telah selesai kuliah. Sisanya tumbuh seperti anak anggota pasopati lainnya.

Waktu di Manglayang Ia anggota Drumband Gita Abdi Praja. Saya tak paham Ia gabung disitu. Mungkin pelarian dari stres, apel, dan aerobik, sebagaimana kesannya di Buku Kenangan.

Selain Edwin, di Sulut ada dua yang sakit. Gerald Katili dan Lucky Kalumata. Efer sudah sembuh beberapa minggu lalu. Umur segini kita memang mulai berurusan dengan perubahan fisik.

Sewaktu di barak Edwin suka merembes. Ia terus-terang soal itu. Katanya, merembes Indomie adalah perbuatan paling menyenangkan asal lolos dari intaian pengasuh. Ia rupanya favorit dengan rasa kaldu ayam.

Sambil bercerita pendek di Tuna House Paniki suatu waktu, Ia melempar pengalaman waktu di barak. Edwin menghindari bicara formal yang membosankan. Kecuali benar-benar penting didiskusikan.

Edwin sahabat Pasopati yang baik. Ia hadir tanpa melupakan senyuman khas di kedua lesung pipi. Ia lincah bercerita, sesekali baku-gara guna menghangatkan suasana.

Selamat jalan Edwin. Tawamu telah pergi, namun kebaikanmu tetap kekal diingatan. Kursi kami terasa berkurang satu di Menza. Ruang group pun perlahan akan sepi, kecuali kenangan indah bersamamu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Singkat Luwuk

Eksistensi IPDN, Tinjauan Historis, Filosofis, Normatif dan Relevansi Kekinian

Seri: Kajian Filsafat Ilmu Pemerintahan