Kenangan Prabowo Subianto di Kampus Manglayang
Oleh. Muhadam
Beberapa foto di atas adalah rekaman peristiwa saat Danjen Kopasus Prabowo Subianto menjadi salah satu undangan di Balairung Rudini IPDN Jatinangor.
Ia didampingi Ketua STPDN Mayjen (Purn) IGK Manila dan Gubernur Timor-Timor, Jose Abilio Osorio Soares. Manila adalah Ketua STPDN kedua, menggantikan Mayjen (Purn) Sartono Hadisumarto. Ia memimpin sejak angkatan 05.
Kegiatan seminar penguatan integrasi Tim-Tim dilaksanakan pada 11 Desember 1995. Dihadiri sejumlah pemuda Tim-Tim yang tergabung sebagai mahasiswa dan organisasi kepemudaan.
Foto di atas diperlihatkan ke Presiden Prabowo Subianto saat melantik 1.204 Pamong Praja Muda IPDN Angkatan XXXIII pada Rabu, 29 Juli 2026 di Jatinangor.
Melihat foto tersebut, presiden tampak surprise dan bangga. Apalagi ketika Ia diyakinkan oleh civitas bahwa kakek yang dikaguminya, Raden Mas Margono Djoyohadikusomo adalah Alumni OSVIA Magelang, 1911.
Rasanya, belum ada satupun presiden yang datang melantik Pamongpraja Muda hingga menghabiskan waktu hampir 5 jam untuk bersantai diberanda IPDN. Prosesi hanya berlangsung pukul 08.30-09.30. Beliau pulang pukul 13.30.
Turun Helikopter, beliau dijemput dilapangan Sepak Bola IPDN. Tak hanya melantik dan berpidato, presiden berfoto bersama Pamong Praja Muda dilapangan Parade, serta menyaksikan prosesi victory dengan yel-yel heroik.
Ia menyempatkan diri berbincang lama di ruang penerimaan tamu. Saat naik mobil golf menuju parade, presiden mengatakan bahwa Ia sebenarnya termasuk keluarga besar Alumni Pamong Praja IPDN. Warek Prof. Hyro dan Dr. Arief meyakinkan beliau secara historis.
Sebelum pulang, presiden berjanji akan hadir tahun depan di Kampus Manglayang. Presiden tampak terkesan mengingat semua nostalgia itu. Ia sempat bertanya, dimana Pak Manila sekarang. Beliau baru sadar bahwa IGK Manila telah wafat.
Kini kita perlu menyadari, bahwa tak ada alasan paling kuat untuk menghadirkan presiden sekaligus mempertahankan masa depan Kampus Manglayang kecuali ikatan sejarah. Tanpa itu, kita telah lama dikubur, bahkan perlahan masuk museum.
Sejarah tak sekedar menghafal aksara dan angka, namun sejauh mungkin menciptakan ikatan masa lalu, hari ini dan kedepan. Mendewasakan, serta menarik nilai yang mungkin terpendam. Entah kejayaan maupun malapetaka.
Sedemikian perlunya sejarah kata Cicero, Ia adalah saksi waktu, cahaya kebenaran, kehidupan memori, guru komunikasi, dan pembawa masa depan. Karenanya, melupakan sejarah adalah kutukan, kata George Santayana.
Komentar
Posting Komentar