Pak Rudy Masdar, Sekda Luwu

Oleh. Muhadam

Namanya Muhammad Rudy Masdar. Ditulis Muh. Rudy Masdar. Pakai Y Greek, bukan i, kata saya ke seseorang yang akan pesan karangan bunga. Begitu tertulis di Buku Kenangan.

Rudy lahir di Palu, 11 April 1974. Ibu bapaknya orang Bugis tulen. Logat ibunya kental Bone, jenis to riolo, klasik. Bone, wilayah eks _monarchi_ di Sulsel (zelfbestuurlandschappen). Ayahnya dulu tugas di Kantor Perdagangan Palu.

Kakaknya, Aziz Masdar pernah sekelas di Jurusan Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Tadulako. Setahun bersamanya, tak sangka ketemu adiknya waktu masuk Manglayang. Sama-sama babak belur. Di Ospek Untad dan STPDN.

Kami utusan Sulteng, penempatan di Sulsel. Rudy, Syamsul, dan saya tugas di Luwu. Dray tugas di Bone. Dulu Luwu seluas Bone. Mencakup Kota Palopo, Luwu Utara dan Luwu Timur. 

Kini semua pulang kampung. Kecuali saya, Rudy dan Dray. Kami menikahi gadis disana. Itu salah satu strategi kata Dray agar diterima dirantau. Dalam relasi kuasa tradisional ada istilah ujung lidah, ujung badik, dan ujung laso.

Bersama kami di Luwu, ada juga Irawan Kangiden. Asdaf Sulut yang terlempar kesitu. Dari namanya, mungkin Jawa-Tondano. Turunan Kyai Mojo, pengawasl setia Pangeran Diponegoro waktu dibuang dari Jawa ke Manado (1830).

Rudy birokrat yang luwes, santai, dan rendah ambisi. Ia lebih suka tidur panjang dibanding kerja sampai larut malam. Saya tak paham alasan apa akhirnya Bupati pilih beliau dibanding kompetitor lain.

Bupatinya kenal saya. Beliau yang terima draft NA Pemekaran Provinsi Luwu Raya beberapa bulan lalu. Saya ketua tim. Saya bilang, pak plt sekda teman seletting. Ia hanya jawab, siap pak prof. Sisanya biar jadi pikirannya.

Seperti yang lain, Rudy hampir frustasi tugas disana. Ada kejenuhan. Bersiap diri pindah tugas bila kalah yang didukung. Untungnya oppo (terpilih ulang). Surat pindahnya tak jadi dikirim ke Sulteng.

Padahal saya sudah bicara dengan Pak Gub Sulteng. Agar disiapkan satu posisi, seperti teman seletting Pak Gub, mantan Sekda Palopo. Beliau jadi Kadis Pendidikan.

Nasib Rudy baik rupanya. Dukungannya tak sia-sia. Maklum, hari ini bila tak ikut gerbong timses bisa dicap pengkhianat, oposisi, lawan, dan musuh. Abis pilkada cuma dua. Balas budi atau balas dendam.

Rudy punya ketenangan. Ia mampu mendayung di tengah gelombang. Ikut kata Machiavelli, hanya yang mampu beradaptasi yang survive. Bukan yang kuat dan pintar. Tak mesti pintar, tapi harus pintar-pintar.

Rudy lama sebagai pengendali di badan keuangan. Mungkin jejak karier itu yang buat Ia dipercaya duduk disitu. Bupati butuh birokrat yang dapat mengamankan kebijakannya. Dipercaya dan pura-pura tuli.

Kini Rudy dipercaya sebagai sekda. Ia pasti butuh smoking room. Makin tebal asap katanya makin jernih pikiran. Namun jadi sekda sekarang tak seperti dulu. Dulu, punya dana operasional besar dan disegani. Orang kedua bupati, dan pertama di birokrasi.

Jadi sekda lebih dilematis dan berat, kata Sekda Grobogan. Sebab itu butuh adik-adik alumni yang pintar dan disiplin. Alumni Pamong Gen Z. Kalau tidak, bisa kewalahan. Misalnya buat makalah presentasi sewaktu-waktu.

Makalah bidingnya jadi acuan Sekda Depok. Sekda Depok jadi rujukan Sekda Luwu. Asal kompak, tinggal ganti judul, selesai perkara. Macam kerjakan tugas dosen di Barak. Copas dan sesuaikan. Dunia kini terasa dekat dan mudah.

Mudah-mudahan Rudy sukses menjalankan amanahnya. Dipandu Tuhan dalam mendampingi bupati. Kami bangga sebagai bagian dari Keluarga Besar Pasopati. Apalagi Sulteng. Sebab Ia yang pertama jadi sekda.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Singkat Luwuk

Seri: Kajian Filsafat Ilmu Pemerintahan

Eksistensi IPDN, Tinjauan Historis, Filosofis, Normatif dan Relevansi Kekinian