Catatan Kondangan di Ternate
Oleh. Muhadam
Saya dan beberapa kawan di undang Suryadi ke Ternate. Menjadi tamu pernikahan buah hatinya bersama Erva Pramukawati. Alifka, nama anaknya. Menikah dengan Dhani. Tanggal 6 Juni 2026.
Alifka putri pertama. Mirip anak Sukismanto dan Irfan Rusli Sadek. Kedua putra mereka diberi nama Alif. Pernah sekolah di IPDN Jakarta. Mungkin anak terakhir wassalam. Saya tak tau lagi.
Suryadi, Deputi di KPU RI. Erva Sekwan di Maluku Utara. Saya sepesawat dengan Sekda Depok. Om Mangngulluang Mansur. Beliau ambil alih tiket PP. Di jemput di Blok A6. Pakai taxi listrik BYD jenis Alphard, Denza.
Sebenarnya, di waktu yang sama diundang Novri. Jadi saksi nikahan anaknya. Tentu bersama kawan-kawan di Riau. Saya dihubungi Renaldi, Mutiara, dan Muhammad. Diajak zoom meeting malam-malam.
Novri birokrat yang rajin dan peduli pada teman-teman. Khususnya Indra yang lama kena stroke berat. Ia selalu melaporkan perkembangan kesehatan Indra. Saya pernah bezuk Indra, sekalian mampir kerumahnya
Rumah Novri di cat putih bersih. Dihalamannya berkeliaran banyak jenis ayam. Kecuali ayam kampus. Saya juga pelihara beberapa ayam petelur buat konsumsi sehari-hari. Ada sedikit tanah kosong di sudut rudin.
Mungkin itu pula yang mendorong kawan-kawan di Riau daratan dan kepulauan memanfaatkan moment buat reunian. Videonya dikirim ke group. Indah, kompak, dan pastinya seru. Pakai drone segala.
Tahun-tahun kedepan kita akan rajin dapat undangan keluarga Pasopati buat hadiri nikahan anak. Ini memang masanya. Rata-rata anak Pasopati selesai kuliah, dapat kerja, dan dinikahkan. Bila tak sibuk saya hadiri.
Di Ternate, kami jumpa squad putri Pasopati. Ras terkuat di muka bumi. Ada Regina, Imelda, Ira, dan Aisyah. Sapa mo lawan dorang. Bila tak punya mental sebaiknya hindari. Ruwet urusannya, kata Pak Sekda Depok. Salah satu saksi korban.
Agenda putra bisa berantakan. Sen kiri belok kanan. Menyesuaikan dengan protokol mereka. Mulai ngopi, kuliner, pelesiran, meni-pedi, buruan ole-ole, hingga dugem. Bila lemah iman sebaiknya istrahat. Bisa murtad seharian.
Saya telah hadiri beberapa anak purna. Termasuk anak Yudesri Sekda Pasaman, dan Sahli Muba, Iskandar Syahrianto. Sekarang Ia punya cucu umur 5 bulan. Jadi kakek seperti Fahri dll.
Waktu menikmati keindahan Ternate dari Gunung Gamalama, kami jumpa Sofyan Maradjabessy. Upu Latu idaman janda kembang. Necis dan parlente. Sofyan pernah sebarak di Kalsel Atas. Tukang kuti gitar di nada G Mayor Jendral.
Di barak sesekali kami nyanyi. Saya kebagian suara dua. Pengasuhnya Kaka Zeth Sony Libing. Terkenal dengan suara mendesah, merangsang, dan menggelisahkan perasaan. Ia pernah jadi Pj Bupati Alor disamping Kadis Pariwisata.
Sofyan punk anak sudah besar dan berumah tangga. Putranya alumni Manglayang. Menantunya angkatan 05. Punya cucu. Sofyan suka salah tingkah dihadapan dokter spesialis kelamin dan kulit, dr. Ferdinan Sirait yang juga Sekjen Bawaslu itu.
Ia beri insight pendek soal fungsi organ reproduksi di masa menopause. Bagaimana senggama sehat di usia 50an. Audiance interest soal itu. Walau tak kuat menahan cekikikan di sela-sela keseriusan. Mengingat Radio Mara tempo dulu.
Bedanya, dr. Dinan tak sedetil itu. Dia hanya menjelaskan penetrasi yang bersifat subjektif dan dinamis. Fokus pada penyesuaian ritme, sudut dan kedalaman dibanding mengandalkan kekuatan di usia kita.
Di malam pesta, ibu-ibu Pasopati mengambil alih mic. Tak mau kalah sama penyanyi pro. Foto selfinya lebih heboh dibanding milenial. Semua gaya ada, termasuk gaya menopang dagu. Untung tak disuru ikut menjulurkan lidah.
Saya diberi waktu sambutan di depan Sekjen KPU dan Bawaslu. Agar beda dengan nasehat perkawinan oleh ustadz di sesi kedua, saya bicara sedikit populasi keluarga Pasopati. Waktunya pendek, 7 menit. Pun masih kena interupsi Bu Ibu.
Walau penat, mules, dan ngantuk berat, tapi menghadiri kondangan setaraf reuni lokal. Turut memberi dukungan moril, selain merawat silaturahmi. Mereka bahagia bila teman-teman merelakan sedikit waktu untuk datang.
Kami balik Jakarta. Berpisah dengan Asmin Safari Lubis dan istri, Sony Takumansang, Randy Waworuntu, Irfan Rusli Sadek bersama madam yang tak mau ditinggal walau sejam, dan Iskandar Syahrianto. Kami beda pesawat.
Komentar
Posting Komentar