SMA Taruna Pamong Praja Bojonegoro

Oleh. Muhadam


Ini sekolah pertama bertitel Pamong Praja. Lokasinya di Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur. Tepatnya di Jl. HOS Tjokroaminoto No.09. Salah satu jalan protokol yang cukup ramai.

Jalan sekolah itu mengingatkan saya pada historiografi pendidikan Pamong. Maklum, Tjokroaminoto alumni sekolah Pamong Praja tua, OSVIA, 1902, Magelang. Ia lulus di usia 20 tahun.

Tjokro sebagai guru dan induk semang di Jl. Peneleh Surabaya punya tiga murid hebat. Soekarno, Kartosuwiryo, dan Muso. Ketiganya mengambil jalan idiologi berbeda.

Soekarno populer dengan nasionalisme. Mendirikan PNI. Karto terkenal dengan jalan Islamisme. Membentuk DI/TII. Muso mengembangkan komunisme (PKI).

Sebagai anak kosan, Soekarno menikahi anak induk semangnya. Tjokro otomatis menjadi mertua Soekarno dari anaknya, Siti Oetari. Ia menjadi istri pertama Soekarno.

Saya tak akan menceritakan jauh soal Tjokro dengan muridnya yang lain. Saya hanya ingin menceritakan sedikit sekolah SMA Pamong Praja di jalan HOS Tjokroaminoto. Saya kesitu mewakili rektor IPDN dalam acara sertijab kepsek.

Sekolah SMA itu masih belia. Baru dua angkatan. Angkatan pertama berjumlah 200 taruna. Angkatan kedua sebanyak 216 taruna. Jumlahnya 416 taruna dan taruni. 

Asrama putri sedang dibangun. Asrama putra sudah selesai dan telah diresmikan oleh Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa. Maketnya lengkap dengan sarpras penunjang.

Sebenarnya sekolah taruna di Jatim ada 5. Semua masuk sekolah unggulan. Bermitra dengan TNI dan Kepolisian. Satu-satunya yang bermitra langsung dengan IPDN hanya SMA Taruna Pamong Praja.

Selain asrama, SMA itu punya kolam renang, lapangan olah raga, lapangan parade, gedung makan dan seremoni, serta fasilitas pendukung yang sedang diselesaikan.

Hebatnya, walau baru dua angkatan, marching band, regu baris parade, dan penampilan seni tarinya cukup memukau. Mengingatkan IPDN waktu awal dirintis menjadi STPDN (1990).

Sedikit berbeda, iklimmya gersang dan panas. Namun lama-lama jadi sejuk bila pohon pelindung makin banyak di tanam. Letak sekolah itu disamping sawah tadah hujan. Bagus buat praktek bertani dan beternak.

Calon pemimpin kedepan tak hanya melulu diajar baris-berbaris. Tapi bagaimana menanam padi, jagung dan sayuran. Itu modal dimasa depan agar bangsa tak mengalami krisis pangan.

Seperti boarding school lain, peserta SMA Pamong Praja berasal dari berbagai provinsi. Berharap seperti SMA Taruna Nusantara, tembus keberbagai perguruan tinggi, seperti IPDN, Akmil, Akpol, dan perguruan tinggi bergengsi.

Saya berbagi pengalaman setelah diajak makan di Balairung Graha Adhigana. Pentingnya mengembangkan psikomotorik (skill), afeksi (mentalitas), selain intelektual (kognitif). Ketiganya jarlatsuh.

SMA Pamong Praja punya tagline Nayaka Mandala, calon pemimpin bangsa. Di Graha Adhigana banyak goresan filosofi Pancasila. Mulai sila pertama sampai sila kelima dengan contoh-contoh yang mudah diingat.

SMA Pamong Praja benar-benar meletakkan pengajaran, pelatihan, dan pengasuhan secara konsentrik. Pelatih dan pengasuhnya diambil sementara dari TNI. Menimbang IPDN yang jauh. 

Sekolah ini saya rasa punya masa depan bagus. Apalagi dibidani oleh alumni seperti Aries Agung Paewai. Ia alumni STPDN Angkatan 07, dan pernah jadi pengasuh sebelum jadi Kadis Pendidikan Jatim.

Ia didukung kuat oleh Wakil Bupati Bojonegoro, alumni APDN Jatim, Ibu Nurul Azizah. Mereka saling mendukung, termasuk alumni disana. Salah satunya Nursujito, angkatan 04.

Aries punya pengalaman panjang. Mantan ajudan Gubernur Sulsel Amin Syam. Ia pernah pula mendampingi Pj Gub Sulsel Tanribali Lamo sewaktu di Kemendagri. Ia punya visi soal sekolah itu.

Saya berharap sekolah itu bisa memicu gairah purna praja di provinsi lain agar membentuknya. Pendidikan adalah investasi yang tak pernah rugi. Ia hanya perlu ditangani secara serius dan kompak.

Menimbang purna praja angkatan 01-05 dalam masa 5-10 tahun kedepan pensiun, ada baiknya kita perlu memikirkan untuk mengembangkan investasi kepemimpinan bangsa semacam itu sebagai legasi yang tak terkira.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Singkat Luwuk

Eksistensi IPDN, Tinjauan Historis, Filosofis, Normatif dan Relevansi Kekinian

Seri: Kajian Filsafat Ilmu Pemerintahan