Postingan

Gerakan Moral Perubahan

Oleh. Muhadam Korupsi bukan hanya mendekati tubir. Ia bahkan tak tersentuh dikedalaman. Mungkin itu pula, mengapa publik cenderung permisif dengan kanker sosial itu. Di tiap kali pesta demokrasi mereka mengais rezeki. Di MBG mereka menemukan peluang. Celios (2026) menunjukkan bagaimana alasan stunting tak reliabel dengan realitas. Daerah dengan stunting tinggi tak punya penampang SPPG yang sepadan. Sebaliknya, daerah rendah stunting justru punya penampang SPPG bejibun. Andai tujuan MBG mengurangi beban domestik, sejogjanya tiap keluarga bertambah uang saku, bukan depresiasi. Tabungan terkuras, daya beli menurun disebabkan harga menanjak. Nilai rupiah hampir tak berwibawa kecuali alat tukar di sekitar kompleks. Argumen menggerakkan rantai pasok pun tak nampak dipermukaan. Petani, peternak, dan nelayan tak kunjung merasa diborong produknya. UMKM lokal tak merasa bergetar akibat sentimen bahan baku projek nasional. Tujuan mulia negara dibengkokkan di tengah jalan. Di tengah kecemasan PHK ...

Catatan Kondangan di Ternate

Oleh. Muhadam Saya dan beberapa kawan di undang Suryadi ke Ternate. Menjadi tamu pernikahan buah hatinya bersama Erva Pramukawati. Alifka, nama anaknya. Menikah dengan Dhani. Tanggal 6 Juni 2026. Alifka putri pertama. Mirip anak Sukismanto dan Irfan Rusli Sadek. Kedua putra mereka diberi nama Alif. Pernah sekolah di IPDN Jakarta. Mungkin anak terakhir wassalam. Saya tak tau lagi. Suryadi, Deputi di KPU RI. Erva Sekwan di Maluku Utara. Saya sepesawat dengan Sekda Depok. Om Mangngulluang Mansur. Beliau ambil alih tiket PP. Di jemput di Blok A6. Pakai taxi listrik BYD jenis Alphard, Denza. Sebenarnya, di waktu yang sama diundang Novri. Jadi saksi nikahan anaknya. Tentu bersama kawan-kawan di Riau. Saya dihubungi Renaldi, Mutiara, dan Muhammad. Diajak zoom meeting malam-malam. Novri birokrat yang rajin dan peduli pada teman-teman. Khususnya Indra yang lama kena stroke berat. Ia selalu melaporkan perkembangan kesehatan Indra. Saya pernah bezuk Indra, sekalian mampir kerumahnya Rumah Novri ...

Pak Rudy Masdar, Sekda Luwu

Oleh. Muhadam Namanya Muhammad Rudy Masdar. Ditulis Muh. Rudy Masdar. Pakai Y Greek, bukan i, kata saya ke seseorang yang akan pesan karangan bunga. Begitu tertulis di Buku Kenangan. Rudy lahir di Palu, 11 April 1974. Ibu bapaknya orang Bugis tulen. Logat ibunya kental Bone, jenis to riolo , klasik. Bone, wilayah eks _monarchi_ di Sulsel (zelfbestuurlandschappen). Ayahnya dulu tugas di Kantor Perdagangan Palu. Kakaknya, Aziz Masdar pernah sekelas di Jurusan Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Tadulako. Setahun bersamanya, tak sangka ketemu adiknya waktu masuk Manglayang. Sama-sama babak belur. Di Ospek Untad dan STPDN. Kami utusan Sulteng, penempatan di Sulsel. Rudy, Syamsul, dan saya tugas di Luwu. Dray tugas di Bone. Dulu Luwu seluas Bone. Mencakup Kota Palopo, Luwu Utara dan Luwu Timur.  Kini semua pulang kampung. Kecuali saya, Rudy dan Dray. Kami menikahi gadis disana. Itu salah satu strategi kata Dray agar diterima dirantau. Dalam relasi kuasa tradisional ada istilah ujun...

Reuni Jateng di Solo

Oleh. Muhadam Saya mulai menyenangi reuni. Bukan sebab Ketua Pasopati. Karena ingin mengenal semua kawan lebih dekat. Mumpung masih hidup. Dulu tak sempat. Terpisah oleh perlimaan, kelas, barak, darma, wira, dan sena. Saya diundang Mas Eko Supriyanto. Dijapri dua minggu sebelumnya. Eko pernah sebarak di Nindya. Bareng Bahtiar dkk. Eko sekarang suka jalan sama istri mungilnya. Sriatun. Sampai ke ujung Sumatera. Saya juga ajak istri. Tapi tak mau bila urusan alumni. Mengganggu katanya. Tak sefrekuensi. Ditinggal sendiri kalau sudah ketemu kawan. Tak seletting katanya. Pendeknya banyak alasan. Biarlah. Hitung-hitung lebih merdeka. Bisa punya waktu mewah dengan kawan-kawan. Sekali-kali. Dirumah berdua terus. Anak sudah usia 26 tahun. Punya kesibukan sendiri, plus rajin reunian sesama alumni Gontor. Saya daftar dan bayar registrasi ke panitia. Dijemput Mas Taufiq dan Herdiswijaya di Bandara Adi Soemarmo. Atas perintah korlap Bu Paulina. Lama tak jumpa Mas Taufiq, sejak masalah menimpanya. S...

Menyambut Kemerdekaan ke-81

Oleh. Muhadam Kapan kita merdeka 100% seperti imaji Tan Malaka? Mungkin kita tak perlu bermimpi sesempurna itu. Cukup merdeka di atas 50% sudah hebat. Sebab manusia pada dasarnya telah kehilangan kemerdekaan sejak lahir ke muka bumi. Manusia hakekatnya lahir merdeka. Ia terjajah oleh lingkungannya. Tunduk pada sistem kuasa domestik, pendidikan, agama, masyarakat, hingga negara. Yang tersisa hak-hak dasarnya sebagai human need. Supaya terlindungi dan terlayani, manusia butuh entitas paling kompleks, negara. Lewat seperangkat otaknya, pemerintah menjamin kebutuhan dasar itu. Disitu fungsi primer dan sekundernya muncul (naachstate-welfarestate). Fungsi primer memastikan terpenuhinya hak dasar warga negara. Hak hidup, berbicara, berkumpul, bermusyawarah, berorganisasi, mendapatkan pendidikan dan kesehatan, adalah sedikit contoh dalam ide kesejahteraan dan keadilan (Plato). Sisanya menjadi kebutuhan sekunder yang dapat dipenuhi tak hanya oleh pemerintah, diri sendiri, juga pasar. Menimbang ...

Nasib Koperasi Merah Putih

Oleh. Muhadam Projek nasional kedua paling sensitif saat ini adalah Koperasi Merah Putih (KMP). Menyusul Sekolah Rakyat yang sepi kritik. Belajar dari MBG, persoalan pokok yang mesti dibenahi, bagaimana sepatutnya Ia dikelola, dan bagaimana pengawasan dilakukan. Kita ingin memastikan nasib KMP tak sepahit MBG. Tak hanya mengorbankan tiga petinggi, juga ratusan siswa di sekolah. Hal yang sama, KMP tak perlu memakan korban pengurus dan anggotanya, yang sejak dulu punya patologi di benak masyarakat. Koperasi kali ini membawa semangat heroik, merah putih. Ia meletakkan nasionalisme dan simbol negara. Mungkin 11.000 koperasi lama telah lama dinilai kehilangan nasionalisme. Rapuh karena menyedot modal anggotanya hingga kerontang. Jadul bukan hanya tuna modal, juga kehilangan _trust._  Ratusan koperasi lama kehilangan nyawa. Konon modalnya lenyap dibawa kabur pengurus. Dikampung saya, kantornya pernah jadi hunian hantu, gudang, dan kandang ternak. Padahal sejak 1972 koperasi dibangun deng...

Menza, Cermin Birokrasi

Oleh. Muhadam Menza sekarang, beda. Wajah dalamnya lebih mewah. Dinding korps berlapis tembaga. Tak ada ompreng, hanya piring di meja kokoh. Bising awalnya tetap dengan kharisma kuat. Apalagi saat Dan Upacara berteriak duduk siap. Keheningan menambah sakral. Sejak dulu Menza punya fungsi spesial. Bukan saja ruang berkumpulnya praja lapar, juga ragam karakter bersentuhan. Menyentuh di hati, bahkan sesekali naik ke ulu-hati. Menza suka gaduh sebelum dan sesudah makan. Di Jepang, upacara makan bukan hanya simbol kelas. Juga tradisi dan mitos. Kesalahan mengangkat gelas bisa menunjukkan siapa diri kita, sekaligus mengoreksi tatanan etik dalam struktur sosial yang diwakili. Menza punya mitos demikian. Bagi Muda yang berada di struktur sosial kasta bawah, Menza, praktis tempat menyelesaikan lapar dan dahaga. Sekalipun bukan tanpa konsekuensi. Ia bisa berubah menjadi tempat uji nyali dari energi yang sering tak terkendali. Di Menza, karakter praja bisa terbaca. Dan, Mudapraja punya semacam se...