Apa yang Diingat dari Manusia?
Oleh. Muhadam Labolo
Tulisan Cak Mad tentang Titining Tindak Tumanduk, Tata Ningrat menarik direnungkan. Ia menjembatani pikiran Albert Bandura dalam perpektif filosofi Jawa (2026). Saya coba memetik intinya. Memparafrase dan mengelaborasi bagian yang menurut saya punya kedalaman. Misalnya keningratan, budi pekerti, keburukan, dan apa yang tersisa dari hidup manusia yang pendek.
Nuansanya dekat ke psikologi-pemerintahan. Problem pemerintahan lebih intim disentuh oleh politik, hukum dan ekonomi. Kita kehilangan sudut pandang lain yang mampu membangun keinsyafan bagi masa depan kepemimpinan. Ini penting dalam membangun kesadaran moralitas kepemimpinan yang tercemar. Rasanya hampir tak ada aspek yang bersih oleh korupsi. Apalagi hari-hari ini, dimana muka, jabatan dan ijazah sedang dicari dan diverifikasi kata kyai di Gontor.
Dulu, sekolah hanya untuk kelas ningrat. Apalagi sekolah elit sekelas Osvia dan Stovia. Ningrat dalam konteks ini kelas sosial dalam masyarakat. Manusia dibedakan dari sisi tertentu. Nilai manusia bergantung pada stratifikasi sosial. Dalam religiusitas Hindu dikenal kelas Brahmana, Ksatria, Waisya, dan Sudra. Jangan mimpi naik kelas bila hidup tak berubah signifikan.
Kini, ningrat tak lagi ditimbang oleh gelar, darah, atau tinggi rendahnya posisi. Ningrat adalah kualitas perilaku, kata Cak Mad (2026). Orang bisa tinggi jabatan tapi nol akhlak, kata kawan saya Ferdinan Sirait.
Sebaliknya, orang bisa tak berpunya namun luhur pekertinya. Religi mengajarkan, kemuliaan tak ditentukan dimana kita berdiri, tapi bagaimana kita memperlakukan orang lain dari tempat kita berdiri. Timbangan keluhuran bukan seberapa tinggi kita memperbesar diri. Tapi seberapa sedikit orang lain harus diinjak agar sampai di tangga tertinggi dari cita-cita kita. Kesadaran itu satu makna keningratan.
Keningratan juga kejujuran. Jujur bukan rupa yang biasa tampil di panggung. Tapi keputusan yang diambil ketika ruang dalam gulita. Ketika nafsu dan tindakan bertikai. Disitu wisdom kadang hadir kata Cak Mad. Ujian kita hari ini rupanya bukan saat berkuasa. Tapi ketika kita punya peluang mengutak-atik kuasa. Bukan pula saat dipuji, tapi ketika kita mampu melandai. Tidak saat disaksikan, tapi ketika kita memilih yang benar.
Manusia pada dasarnya dapat memilih tindakan, walau tak sepenuhnya bebas memilih akibatnya. Kita menanam sikap, dan hidup menuainya lewat bentuk yang lain. Kita hanya belum sadar. Kesombongan hari ini bisa jadi melahirkan jarak esok lusa. Banyak bukti pemimpin jumawa pada akhirnya ditinggal pengikut. Ramai-ramai berkhianat, bahkan melawan. Loyalitas berubah jadi pembangkangan.
Penghinaan kemaren mencipta perlawanan laten dan sewaktu-waktu. Tak sedikit bukti bawahan dihina tiba-tiba melejit melampaui sangkaan. Melewati atasannya, bahkan jadi pemimpin besar, presiden. Ketidakjujuran kemaren merusak kepercayaan di kelak hari. Sudah cukup kita melihat seseorang diadili sedang dan setelah tak berkuasa. Seperti menangguk dosa pasca pensiun. Itu disini, belum disana. Di Padang Mahsyar.
Kita menyaksikan bagaimana manusia melakukan hal yang merugikan orang banyak sambil tetap merasa dirinya baik. Entah itu menteri maupun pengurus ormas agama. Bisa polisi atau guru, yang melindungi dan mendidik. Mereka menata diri agar mulia dihadapan manusia, tapi tidak dimataNya. Kebebasan berkuasa digunakan tanpa kesadaran. Kebebasan semacam itu tak lain kecuali ketidakdewasaan. Wajah lebih tua dari perilaku.
Sebaliknya, kebaikan menumbuhkan kepercayaan. Kepercayaan adalah modal bagi keberlanjutan kepemimpinan pemerintahan. Tanpa itu relasi pemerintahan kehilangan nyawa. Keteladanan diam-diam mengajarkan sesuatu bagi yang mengagumi. Setiap kita dengan atau tanpa sadar menangkap sosok lain sebagai panduan. Entah lewat kesaksian, cerita, maupun bacaan fiksi.
Manusia bukan sekedar objek yang dibentuk lingkungan (Bandura dalam Cak Mad, 2026). Manusia belajar dari pengalaman, orang lain, kognitif, dan proses mengatur diri. Ia membentuk dan dibentuk lingkungan. Bandura menggambarkan hidup manusia selalu berhubungan secara determinisme resiprokal. Pribadi, perilaku, dan lingkungan saling bertautan. Apa yang kita produksi hari ini akan kembali pada kita.
Akhirnya, Cak Mad memberi pesan bahwa, kita dikenang bukan dari apa yang dimiliki. Tidak pada ketinggian jabatan. Mungkin sedikit dari lisan dan tulisan yang disitasi, tapi lebih sering karena perilaku pada kehidupan orang lain. Seorang pengasuh legend di kampus misalnya. Ia diingat sepanjang masa oleh anak didiknya, bukan karena apa yang Ia miliki, tapi oleh sebab tindakan yang pernah Ia berikan. Mungkin, hanya dengan cara itu anak didiknya ingat sampai sejauh ini.
Komentar
Posting Komentar