Mengenang Ainuddin, Pendaki Gunung dari Lombok Timur
Oleh. Muhadam Labolo
Ainuddin, lahir di Masbagik Timur, Lombok Timur, 18 November 1973. Terakhir bergabung di Wira C/C2. Ia hidup menyepi, jauh dari keramaian, bersama tiga anak dan istrinya.
Di Lombok Timur, tempat kelahirannya, Ia tugas bersama teman seletting, Edi Ilham. Beberapa kali pindah jabatan, terakhir dipercaya sebagai Kabag di Setwan DPRD Lombok Timur.
Dalam percakapan via japri, Ainuddin rajin bertanya perkembangan anggota group yang bermasalah di Lapas. Ia rajin jadi donatur. Protes bila namanya tertulis cepat jadi Aminuddin.
Ainuddin punya hobby mirip Rocky Gerung. Solo mountain climber. Ia merasa tenang bila hidup bersama alam. Tak perlu sampai menundukkan, apalagi sampai menguasai dan mengeksploitasi alam.
Katanya, alam tempat kita datang. Dan alam pula tempat kita kembali. Bukankah bijak bila kita lebih dekat dan hidup dari mereka. Kita terlalu lama lupa soal itu hingga alam murka.
Ainuddin terinspirasi ketika Ia hidup tiga tahun di Manglayang. Dalam kesannya, Ia menikmati alam Jatinangor yang sejuk. Takut sewaktu-waktu cuaca berubah jadi panas. Itu tak menyenangkan.
Ia melukiskan kesan itu sebagai metaforik atas gesekan antara senior vs yunior. Antara praja dengan pengasuh. Cuaca sejuk Jatinangor bisa berubah panas sewaktu-waktu saat penggulungan.
Ainuddin punya pandangan terang soal hidup. Mungkin itulah mengapa namanya Ainuddin, mata agama, petunjuk, penerang tentang semesta yang luas, makro dan mikro cosmos.
Ia meletakkan pesan itu sekaligus optimismenya. Memandang dunia lihatlah kebawah agar kita realistis. Memandang akhirat lihatlah ke atas agar kita tetap ideal, dipandu oleh Tuhan.
Ia ingin melebihi ekspektasi untuk urusan positif. Bila kawan disamping bed bisa, mengapa kita tidak. Tapi Ia sendiri kelelahan menggapai optimisme itu. Ia terhenti saat masuk rumah sakit.
Ainuddin divonis hepatitis. Sekali dua Ia tak merasa ada masalah. Namun untuk kesekian kalinya kelelahan itu jadi akut. Ia berhadapan dengan gagal hati, kronis, jangka panjang.
Kemaren malam, pukul 00.10, di RS Selong Lombok Timur, hatinya berhenti bekerja. Membeku. Ia mendahului kita. Menyampaikan pesan pendek. Kita bagian dari alam dan akan kembali ke alam. Saatnya belajar melepaskan.
Komentar
Posting Komentar