Mengenang Sahabat Eka Surya Agus
Oleh. Muhadam Labolo
Dulu, saya sering ke Kalbar. Beroleh projek kecil dari Sekadau dan Ketapang. Sekadau, desa kecil yang disulap jadi kabupaten. Ketapang jauh, naik pesawat lagi dari Pontianak. Banyak hotel, tapi buat Sarang Walet.
Karena sebab itulah saya ketemu Dwi Indra Buana, Tommy, Jamhur, dan Eka Surya Agus. Yusnida ketemu di Jakarta setelah akhirnya balik dan wafat di Kalbar. Mereka telah mendahului karena sakit. Tersisa Ahmad Salafuddin, Rizma, Yudi dll.
Eka Surya Agus lahir di Singkawang. 6 Desember 1974. Ia suka renang dan sepak bola. Saat jumpa terakhir, Ia ajak ke rumah Charles. Charles lebih banyak istrahat sepulang kantor. Ia kena stroke kecil, dan kini mesti cuci darah.
Di RS Soedaryanto, mereka terbaring bersebelahan. Kemaren siang Eka pergi duluan, pukul 14.25 WIB. Teringat almarhum Haris Kariming dan Ali Rizal, bersebelahan di RS Palu. Ali mendahului, disusul Haris kemudian. Akhir hayat tak ada yang tau.
Saat bersama, proporsi badan Eka sangat ideal. Dwi Indra bahkan atletis. Ia rajin Gym. Jamhur juga menjaga raga sejak di Barak Sumbar Atas. Maklum, Ia eks didikan Rene Renaldi yang populer sebagai pengasuh lincah & energik di era 90an.
Akhir 2024 saya berkunjung ke rumah Eka. Di Jl. Sepakat II, Kompleks Villa Sepakat No. A31. Ia tergeletak tak berdaya di ranjang. Dirawat istrinya yang sabar. Eka punya 4 orang anak perempuan cantik. Dua masih sekolah, sisanya sedang cari kerja.
Eka mungkin Kepala BNN di Kalbar yang non polisi. Ia dipercaya duduk disitu sebelum jatuh sakit. Mungkin Eka dinilai sesuai dengan standar SDM Polisi. Punya sikap yang selaras dengan Korps Bhayangkara.
Eka sangat peduli dengan almamaternya. Kata Irfan Setiawan, Ia banyak membantu saat pertama kali IPDN Kalbar dibuka di Kubu Raya. Urusan teknis difasilitasi, termasuk sekali-kali menjadi tenaga pelatih disana. Ia tetap trengginas dan rapi.
Saya tak mengira Eka mengalami masalah kesehatan. Dimulai dari syaraf kejepit, lalu Gerd, Cancer Kandung Kemih, hingga komplikasi. Ia di rujuk ke RS Pontianak hingga ke Malaysia. Hasilnya tak banyak berubah. Ia hanya tidur berhari-hari.
Ia terbaring dirumah. Sesekali bercakap dari kasur dengan teman yang datang. Pernah di bezuk Imran, Zul, dan Srilailana. Kondisinya menurun drastis sejak tiga hari terakhir. Eka akhirnya menyerah, melewati sakitnya yang lama.
Semasa hidup Eka punya rekam percakapan dengan saya. Ia rajin berdonasi, mengucap selamat lebaran, serta menanyakan sejumlah hal seperti makalah dan bantu buatkan testimoni. Ia dan Salafuddin rajin berkonsultasi untuk hal yang urgen.
Sambil nyetir Eka bercerita. Ia sebenarnya orang Sulawesi. Meski lahir di Singkawang, bapaknya orang Bugis. Waktu kecil pernah diajak ke Palopo (1978). Tugas militerlah yang membuat Ia sekeluarga hidup nomaden sampai disana.
Eka anak sulung dari empat bersaudara. Punya kesan tentang badai sebagai metafora ujian hidup. Meski badai berikutnya akan datang lagi. Mungkin Ia meresapi semua itu ketika menjadi Muda Praja. Setiap saat penuh cobaan.
Eka punya pesan klasik buat kita. Ilmu membuat hidup lebih mudah, seni membuat hidup lebih indah, sedangkan iman membuat hidup lebih terarah. Ia mengajak kita sampai pada kesadaran itu. Kesadaran memaknai hidup yang sering kita lupakan pada durasi yang kian pendek.
Selamat jalan Eka Agus Surya. Sesuai namamu, engkau telah berupaya mengikuti petunjuk penguasa langit tunggal. Menyinari yang dapat engkau sentuh lebih dekat. Keluarga, handai taulan, dan tempat dimana engkau bekerja sehari-hari.
Komentar
Posting Komentar