Selasa, 22 Juli 2014

Selamat Buat Presiden Terpilih



Pesta demokrasi lima tahunan telah usai. Bagi pemenang capres dan pendukungnya tentu saja patut berbangga tanpa berlebihan. Bagi yang tertunda dan pendukungnya penting belajar menerima semua kenyataan itu dengan lapang dada tanpa mesti mengotori pekarangan bundaran HI atau bagian vital lainnya. Bagi kita semua saatnya sadar untuk pilihan nomor tiga, yaitu Persatuan Indonesia sebagaimana ajakan berbagai lembaga pelerai konflik dan pencinta perdamaian abadi. Sekalipun pasangan presiden terpilih boleh jadi bukan harapan semua warga termasuk kaum golput, namun lebih dari lima puluh persen warga (53,15%) yang telah memberikan suaranya dianggap cukup mewakili secara absolute mayority dalam sistem demokrasi konstitusional Indonesia. Sebagai warga negara yang merupakan bagian dari kesatuan masyarakat hukum, kiranya layak menerima realitas itu sebagai amanah konstitusi lewat undang-undang pemilihan presiden dan wakil presiden. Bagi pemenang presiden dan wapres penting untuk dengan segera merangkul mereka yang tertunda guna menurunkan tensi kolesterol politik agar secepatnya normal kembali. Bagi yang tertunda ada baiknya jika belajar mengucapkan selamat bagi pemenang kali ini tanpa melupakan kontribusi sebagian warga yang telah memberikan dukungan penuh sekalipun belum maksimal. Kepada kedua pasangan capres dan cawapres, termasuk seluruh pemilih tetap yang berjumlah lebih kurang 190 juta, patut kiranya meninggalkan semua kepercayaan relatif pada sejumlah lembaga survei sebagai indikator dan dasar klaim kebenaran dalam pemilu presiden. Satu-satunya kebenaran yang menjadi rujukan kita adalah apa yang telah diputuskan oleh wasit negara, yaitu Komisi Pemilihan Umum. Dengan begitu maka semua arogansi politik dan nafsu kemenangan berlebihan yang selama ini tampak dalam berbagai spekulasi ilmiah lebur pada real qount KPU. Mereka yang mengklaim kebenaran ilmiah sebagai kebenaran mutlak sama saja dengan meniadakan kebenaran lain yang mungkin pernah ada, sedang ada dan atau akan ada. Kebiasaan menyimpulkan generatif menunjukkan kegagalan atas filsafat ilmu, bahkan terlalu menyederhanakan masalah yang sesungguhnya. Inilah ciri kaum positivistik yang selalu mengambil sampel di atas meja tanpa melihat apa persoalan sebenarnya dibalik meja. Dalam masyarakat homogen dan luas mungkin ada baiknya, namun dalam masyarakat heterogen dan kasuistik cara demikian sama dengan menutup masalah yang sebenarnya. Akibatnya, solusi atas masalah menjadi tumpul, tak kena sasaran, bahkan melahirkan masalah baru seperti inefisiensi dan inefektivitas. Terlepas dari polemik itu, pasangan Capres dan Cawapres terpilih segera mempersiapkan diri untuk memulai debut periode pertama lewat performa kabinet profesional, bukan hasil kompromi politik pragmatis. Jika kelompok zaken kabinet yang disodorkan untuk menyelesaikan semua masalah yang pernah diperdebatkan dalam tahapan awal, setidaknya dapat melunakkan kelompok politisi mayoritas penguasa parlemen. Keseimbangan ini perlu dilakukan mengingat komposisi koalisi jika dipermanenkan dapat menekan efektivitas pemerintahan. Bagi saya pribadi, memilih capres dan cawapres sudah selesai, namun bukan berarti semua sudah usai, pasangan terpilih membutuhkan dukungan nyata sebagai konsekuensi atas pilihan kita. Tanpa itu pemenang pilpres tak dapat berbuat banyak. Masa depan kita dan masa depan pemerintahan Indonesia bergantung pada seberapa besar partisipasi kita dalam proses pemerintahan selanjutnya sebagaimana partisipasi kita dalam mudik lebaran setiap tahun. Akhirnya, selamat buat Joko Widodo dan Muhammad Jusuf Kalla sebagai Presiden dan Wapres terpilih, selamat menggenapkan Ramadhan, dan tentu saja selamat pula menyambut lebaran tahun ini.