Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2024

Digitalisasi Pemerintahan Daerah

Oleh. Muhadam Labolo Sebulan lalu, Dr. Harry Mulya Zein mengirimkan potongan judul dan daftar isi buku bertajuk Digitalisasi Pemerintahan Daerah. Ia dosen tetap IPDN yang pernah malang-melintang di Pemda dan Komisi ASN. Beliau menuntut saya memberikan kata pengantar pendek dalam waktu sekejap.  Saya menawar testimoni, menimbang draft tak terkirim utuh sebagaimana buku yang pernah saya beri pengantar. Beliau tak bergeming, tetap minta kata pengantar. Saya mengalah, mencoba mengabstraksi bab dan sub-bab dengan menghubungkan satu sama lain seperti membangun Jembatan Indiana Jones antara Depok-Jakarta di Sungai Ciliwung. Buku Mas Harry tak hanya menawarkan konsep teoritis sebagai landas pikir, juga manajemen dan strategi teknis yang diambil dari sana-sini, termasuk komparasi praktikal di sejumlah daerah. Buku semacam itu tentu jarang, apalagi ditulis dalam bingkai pemerintah daerah sebagai fokus dan lokus penceritaan. Upaya itu patut diapresiasi agar landing di bumi, bukan di awang-awang.

Muchlis Hamdi, Kenangan Seorang Dosen Ikhlas

Oleh. Muhadam Labolo Apakah Muchlis Hamdi, pakar kebijakan publik masih mengajar di Manglayang? Tanya seorang dosen senior di UGM ketika suatu saat saya bertandang. Saya merasa bangga. Jauh-jauh kesana, rupanya ada yang kenal dosen kami. Sama halnya waktu terlibat penelitian singkat di IPB (2003), beberapa dosen bertanya masih adakah Prof. Talizi di IIP? Setidaknya saya merasa almamater menjadi bagian dari pergaulan akademik. Dihargai dan dihormati pada sisi intelektual yang kini semakin suram. Muchlis Hamdi konsisten dengan bidang ilmunya, kebijakan publik. Ia fokus pada kepadatan teori dan realitas empirik sebagai laboratorium yang terus dicermati.  Dimasa sekolah di IIP, saya menamatkan buku Bunga Rampai Pemerintahan. Mungkin itu magnum opus atas pemaknaan pemerintahan yang Ia pahami. Buku itu memengaruhi pondasi pemikiran pemerintahan sebelum menjejali buku berat Talizi. Edisi Yarsif Watampone itu sejajar dengan Makna Pemerintahan karya Ryaas di tahun 1999. Muchlis Hamdi guru besa

Sadu Wasistiono, Maestro Manajemen Pemerintahan

Oleh. Muhadam Labolo Akhir Januari 2024 Pak Sadu Wasistiono mengakhiri masa tugasnya di almamater, Kampus Manglayang. Ia guru besar bidang Manajemen Pemerintahan. Ia juga menggeluti isu-isu otonomi daerah pasca dibidani oleh Ryaas Rasyid dan kokinya, Djohermansyah Djohan.  Sadu diakui sebagai sedikit dosen IPDN yang konsisten mengembangkan manajemen pemerintahan hingga ke level praktikal. Ia malang melintang dari Sabang hingga Merauke. Membantu pemerintah daerah dalam urusan tata kelola pemerintahan. Saya bersentuhan kerja sejak beliau menjabat sebagai Kepala LPM di IPDN Jakarta. Ruangan saya bersebelahan. Kami kerja sampai sore hari. Saya mudah berdiskusi bila ada topik menarik. Di luar itu kami lebih sering bertemu di hotel. Ngamen sebagai narasumber kemana-mana. Tak sedikit daerah yang kami kunjungi, bersama Made Suwandi, Muchlis Hamdi dll. Pak Sadu salah satu pakar yang jernih menjelaskan sesuatu. Ia punya segudang jawaban untuk urusan tata kelola pemerintahan. Karenanya, Ia banyak

Ramadhan di Manglayang

Oleh. Muhadam Labolo Waktu masuk Ramadhan, praja belum libur. Bagian kerohanian memfasilitasi aktivitas praja buat puasa. Mulai tarwih, kultum, sahur, tadarusan, kajian, mabit, hingga i'tikaf di akhir Ramadhan. Tak sedikit praja yang menikmati ritus ibadah tahunan itu dengan semangat tinggi. Ada pula yang tak puasa, bahkan makan tulang. Untuk sahur disiapkan makanan tambahan. Ada bubur kacang ijo. Makanan mewah itu sebenarnya menu eklusif buat klub sepak bola Manglayang. Mereka benar-benar di service oleh manajernya, Pak Ifandi Hadi, dosen galak dan berkumis asal Jambi. Menu buka puasa biasanya ditambah kolak pisang. Waktu sahur, ada juga satu dua praja non muslim ikut gabung. Buat menghindari aerobik pagi. Bila ditanya alasannya sama, puasa. Tak beda dengan satu dua oknum muslim yang nyelip di bus Praja Kristiani. Mengaku ibadah mingguan di Gereja Alun-Alun Bandung. Padahal hanya ingin pesiar, atau ketemu kekasih gelap di Cicaheum. Untuk mengelabui pengecekan, mereka ganti papan

Korban Cacar Air dan Kerepe'an

Oleh. Muhadam Labolo Semua korban cacar air (versela) di isolasi ke KSA. Disitu seluruh pasien bintitan hitam-merah bercampur. Ada muda, madya hingga nindya. Dokter Soma tak membedakan pangkat. Bila status praja dinyatakan positif, langsung diperintah masuk KSA. Cacar air penyakit menular. Bisa lewat sentuhan kulit, dahak, liur dan lain-lain. Di atas bangunan KSA terdapat lab komputer. Ruangannya sempit hingga praja harus gantian saat praktek. Komputernya jadul. Tiap praja wajib mengingat simbol algoritma untuk bisa mengoperasikan dengan lancar. Praja dibekali disket di depan PC IBM, hafal mana _software_ dan _hardware._  Praja yang hafal dan cepat memainkan jari di depan komputer dinilai jenius. Pendek kata, siapa yang menguasai komputer dia sumber rujukan, sekalipun mata kuliah lain tetap saja _her_ (ujian ulang, Belanda; _herexamen)._ Praja paling takut bila tak lulus. Makanya Sistem Kebut Semalam berlaku di seantero barak.  Beberapa praja membuat kerepe'an. Resume itu dicopy b