Jumat, 24 Juli 2015

Mengembangkan Prinsip-Prinsip Utama dalam Keluarga Ideal



Oleh. Muhadam Labolo

Dalam Qur’an Surah Al Imran ayat 33, Tuhan befirman, “Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat” (dimasa mereka masing-masing). Ayat ini mengabarkan bahwa ada empat keluarga besar yang menjadi rujukan bagi pengembangan protipe idiologi keluarga ideal, yaitu Adam, Nuh, Ibrahim dan Imran. Empat keluarga tersebut tentu saja menjadi teladan bagi keluarga para nabi generasi selanjutnya, termasuk kesempurnaan keluarga Muhammad SAW di kemudian hari.  Sepintas jika kita teliti lebih jauh, Adam memperlihatkan kegigihan awal dalam membesarkan keluarganya.  Dalam buku Great Story of The Qur’an karya Syekh Jadul Maula (2015) digambarkan bahwa Adam dan Hawa teramat menderita saat membesarkan keluarganya. Mereka tidak hanya sekedar menumbuhkan (melahirkan), namun menyusui dan merawat  berpuluh-puluh pasangan kembar yang lahir sebagai cikal bakal nenek moyang bangsa-bangsa di dunia ini. Ditengah penderitaan semacam itu Adam memperoleh pelajaran dalam menyelesaikan pertikaian keluarga antara Qobil dan Habil. Kasus pertama yang dihadapi Adam adalah tindakan kriminal Qobil terhadap Habil akibat iri dan dengki. Sebabnya, persoalan kecantikan dari saudara kembar Qobil yang akan dipersunting Habil sesuai perintah Tuhan lewat Adam. Peristiwa ini menjadi tonggak sejarah dalam hal perkara pidana umum, penyakit sosial masyarakat, serta kecantikan wanita sebagai sumber daya yang sangat kompetitif. Dalam perkembangan kekinian yang tampak bukan saja saudara membunuh saudara, namun orang tua terkadang membunuh anaknya sendiri.  Penyakit Iri dan Dengki adalah penyakit sosial yang menjamur dari lingkungan keluarga hingga ruang kantor birokrasi. Seseorang yang diangkat dan dipercaya pada suatu jabatan terkadang menciptakan rasa tak senang bagi yang lain. Dalam istilah jamak dikenal akronim SMS (senang melihat orang susah, atau susah melihat orang lain senang). Kecantikan adalah sumber persoalan klasik yang kini tetap menyala sekalipun panoramanya tak lagi terlihat secara eksplisit. Gejala ini muncul dalam bentuk yang lebih kompetitif, berkelas, rahasia, clean dan bernilai tinggi yang dipimpin oleh seorang Mucikari. Demikianlah, kesabaran dan ketekunan keluarga Adam dalam mengembangkan peradaban awal membuat Tuhan kemudian mengampuni dosa-dosanya pasca relokasi dari negeri surga yang menjadi asal keduanya. Tuhan menguji kesabaran keluarga Adam.
Nuh memperlihatkan dilema dalam mengukuhkan aqidah anaknya. Lebih kurang 950 tahun berdiplomasi dengan umatnya, Nuh yang memiliki intelegensia tinggi dengan usia kurang lebih 1200 tahun hanya memperoleh pengikut tak lebih dari 80 orang. Ketika Bahtera besar telah dipancangkan, semua pasangan hewan telah naik ke kapal, banjir bandang mulai tumpah ruah keatas permukaan bumi, salah seorang anak kesayangannya tak bergeming dari kebiasaan orang kebanyakan. Nuh memohon grasi kepada Tuhan agar anaknya dapat diselamatkan dan diampuni, namun Tuhan menegurnya agar tetap konsisten dengan apa yang telah digariskan selama ini. Nuh sadar dan memohon ampun pada Tuhannya. Rupanya dalam soal aqidah Tuhan tak berkompromi terhadap gelagat nepotisme yang coba ditawarkan Nuh. Tuhan tak mentolerir politik dinasti dalam soal prinsip dan keyakinan. Keistimewaan Tuhan kepada Nuh sebagai nabi dan pesuruhNya tak berarti garansi bagi keselamatan semua anak cucunya, kecuali mereka benar-benar mengikuti petunjuk yang digariskan oleh Tuhan. Kekosongan nilai semacam itu menjadikan banyak kepala keluarga yang dipenuhi fasilitas istimewa dari negara sebagai pejabat penting tak segan menyertakan anggota keluarganya sebagai bagian dari penikmat fasilitas negara. Ini dapat ditemukan dalam setiap transisi pergantian kekuasaan, dimana seringkali kita menemukan tak ada satupun yang tersisa dirumah dinas kecuali alas/keset sepatu di depan pintu. Bahkan istri yang bukan pejabat menjadi lebih tinggi pangkatnya dalam mengatur berbagai hal diluar kewenangannya.  Parahnya, semua perilaku yang memuakkan semacam itu dibiarkan atau bahkan dianggap tak tau-menahu. Tak ada rasa malu yang tak terkira kecuali kebanggaan karena mampu memanfaatkan kekuasaan yang dimiliki untuk memuaskan dan menyelamatkan anggota keluarganya. Jelaslah bahwa Tuhan sedang menguji konsistensi Keluarga Nuh.
Pada kasus Ibrahim lain lagi, Tuhan menguji pengorbanan yang tulus dari keluarga Ibrahim. Ismail sebagai putra kesayangan awalnya menjadi tumbal pengorbanan sebagaimana wangsit yang diterima lewat mimpi dari Tuhan. Ini perintah yang penuh dilema, antara kasih sayang pada seorang anak manusia satu-satunya dan pengorbanan pada yang menciptakan manusia itu sendiri. Ditengah keikhlasan keduanya (Ayah dan Anak), Tuhan mengganti pengorbanan tersebut dengan seekor domba (qibas). Inilah momentum sejarah bagi penyelenggaraan ibadah qurban sebagaimana terlihat pada setiap ritual Haji. Anak, sesungguhnya hanyalah amanah yang dititipkan Tuhan pada keluarga. Faktanya, ia sering menjadi cobaan bagi prinsip-prinsip penting dalam relasi manusia dengan Tuhannya. Kecintaan manusia pada manusia tampaknya menjadi lebih tinggi dibanding kecintaan manusia pada Tuhannya. Dalam banyak kasus kesalahan mencintai justru melahirkan bumerang sebagaimana halnya Malin Kundang. Tuhan sebagai fokus yang dicintai bersifat tetap dan sepanjang masa, sementara anak bersifat fana dan di kelak hari menjadi milik orang lain, apakah ia membentuk keluarga baru atau menjadi bagian dari masyarakat sosial. Inilah yang membuat Ibrahim mendapat tempat yang layak disisiNya. Keluarga Ibrahim memperoleh peringkat keimanan diatas rata-rata keluarga lain berkat keikhlasan dan pengorbanan yang mungkin bagi manusia biasa sulit diterima menurut akal sehat.  
Peringkat berikutnya diduduki oleh keluarga Imran, dimana Tuhan memberikan gambaran bagaimana pola pendidikan Imran pada anak-anaknya. Imran selalu bertanya pada anak-anaknya, siapakah yang akan kalian sembah sepeninggal aku? Pertanyaan yang berulang-ulang tersebut menunjukkan suatu harapan yang tinggi agar idiologi generasi selanjutnya benar-benar dapat dipastikan berada di rel yang ditentukan. Tranformasi idiologi yang ketat semacam itu dilakukan oleh Imran untuk suatu pengecualian, yaitu prinsip ketuhanan yang maha tunggal, Tuhan semesta alam, Allah subhanahuwataala, Rabbal alamin. Untuk hal lain bagi Imran tak masalah, itu menjadi pilihan anak-anaknya sesuai profesinya masing-masing. Meminjam istilah dalam sistem pemerintahan daerah, urusan keyakinan dan penghambaan pada Tuhan adalah urusan wajib (absolute) yang tak dapat didesentralisasikan begitu saja, ia mesti dikontrol dengan jelas. Sisanya menjadi urusan pilihan (concurent) dari anak-anaknya. Pertanyaannya, apakah setiap kita sebagai orang tua telah mengontrol urusan wajib sebagaimana diperlihatkan oleh Imran? Jangan-jangan kita lebih banyak mengontrol uang jajan anak kita dengan pertanyaan, “Nak, apakah cukup uang yang aku berikan hari ini?” atau “Nak, apakah pekerjaan yang akan kamu minati sepeninggal kami? Siapakah pendamping yang akan kamu pilih? Demikianlah contoh urusan pilihan yang lebih memperoleh perhatian serius dibanding konsistensi kita dalam mengontrol prinsip-prinsip utama. Inilah kegagalan transformasi pendidikan idiologi dalam lingkup keluarga dewasa ini. Karenanya, tak perlu heran jika yang muncul di setiap generasi adalah kesuksesan diatas gemerlapnya harta namun rapuh dalam soal idiologi. Mereka hanyalah sosok generasi yang tampak indah dari luar dibalut jas dan dasi lengkap, namun keropos akan keyakinan yang menjadi pondasi utama bagi keberlanjutan peradaban spiritualitas.