Catatan Kaki di Lapas Maros dan Rutan Makassar

Oleh. Muhadam Labolo

Kemaren, saya dan teman-teman Sulsel berkunjung ke Lapas Maros dan Rutan Makassar. Ini Lapas ke 11 sepanjang karier sebagai Ketua Pasopati membezuk teman di rumah tahanan. 

Saya didampingi para tetua Pasopati disana. Pemandu sekaligus perantara. Mereka bukan saja penjinak jin, mungkin juga perantara mahluk goib dan alam nyata. Ada Puang Arfan, Idrus, Amril, Wawan, Jamal, Ira, Sukma, Besse, Lily, dan sejoli Mas Har & Dwi Budi.

Saya berterima kasih telah difasilitasi mahasiswa yang kebetulan pernah sekolah di magister dan doktoral. Saya hanya minta akses buat bertemu sahabat BB dan HS sebentar namun faktanya bisa lebih sejam. Apalagi sudah bicara mendalam.

Dalam banyak kunjungan saya ke lapas, ini kedua kali paling mengesankan. Kalapasnya sangat baik, menyediakan meja panjang diruangan ber-AC untuk 10 orang pengunjung.

Tak cuma itu, tersedia 6 toples kue lebaran plus tape yang baru difermentasi. Saya kurang enak hati, sepatutnya kami yang mesti bawa sesuatu bukan beliau. Kalapas pernah tugas di Ketapang sebelum disitu.

BB bilang jangan ambil foto dalam Lapas. Bukan saja BB yang bisa dipindah, Kalapas yang baikpun bisa dimutasi. Saya jadi ingat Yaqut, Mantan Menag. Jangan-jangan kalapasnya kena juga.

Pertama kali saya disambut hangat seperti itu waktu kunjungan ke Lapas Porong beberapa tahun silam. Ditemani Bimo, Camat di Sidoarjo mengunjungi almarhum Sangadji. Ia jadi pengawal kayak Amir Mahmud mendampingi Jendral Sudirman.

Waktu masuk pintu lapis pertama, tiba-tiba sipir muda berteriak kencang, "hormat grak!" Dengan sigap kiri kanan barisan beri penghormatan. Rupanya mereka pagar betis yang disiapkan kalapas. Saya merasa biasa saja, mungkin ditujukan ke Pak Kalapas.

Setelah diantar ke halaman santai Sangadji, kami duduk bersenda-gurau sambil melempar makanan buat sejumlah ayam dan bebek hasil ternak warga binaan. Pak Kalapas tak bergeming disamping saya.

Sangadji memperkenalkan saya dengan warga binaan lain, beberapa mantan Bupati dan Walikota dari Indonesia Timur. Usai itu Pak Kalapas bisik, "Pak Prof masih punya waktu bila mau keliling kemana saja, saya siap dampingi!"

Saya jawab, "Pak Kalapas, trima kasih atas fasilitas selama kunjungan disini, saya mau saja, namun tiket balik saya sejam lagi via Surabaya!" Ia bersikeras ajak makan siang tapi saya tolak dengan halus. Beliau antar sampai pintu.

Keluar dari lapas, saya mulai sadar sepertinya ada yang aneh dengan sambutan Kalapas. Saya tanya sama Om Bimo, "mengapa Pak Kalapas baik skali sama kita ya?" Kata Bimo, "sa bilang tadi beliau staf khusus Pak Mentri Hukum & Ham dari Jakarta!"

Astaga,...pantesan dia baik skali. Rupanya Om Bimo pi angkat teru kita punk nama sampe dia bikin pagar betis. Saya mau ketawa takut dosa. Om Bimo cuma kasi liat wajah meyakinkan sambil nahan ketawa. Lucu bisa pede dihadapan penjaga tahanan.

Sabilang Om Bimo, kalo sampe Pak Kalapas tau, kitonk dua dia kase masuk ulang ke bilik penjara yang masih kosong. Tapi kami sudah jauh dari lapas menuju Surabaya. Bimo memang camat berpengalaman dan disukai warga NU diwilayahnya.

Saat wisuda anak di Gontor tak sengaja ketemu kalapas itu lagi. Beliau tegur duluan, saya berusaha menghindar, kuatir ditanya-tanya soal kerja sebagai staf ahli di kemenhum. Saya ajak anak foto wisuda lebih jauh, diseberang taman dekat kelas seniornya.

Bimo tak mau diganti sebagai camat disitu. Istrinya baik, cantik, lincah dan gesit. Sejak muallaf, beliau lebih kultural dibanding waktu pertamakali tugas dari Timor Leste. Beliau sangat bermasyarakat.

Kami duduk seperti rapat di Lapas Maros. BB sebagai narsum, saya moderator. Kami tak ingin menanyakan kasusnya, tapi beliau sendiri yang bercerita panjang kali lebar. Semua mendengar dengan seksama sampai-sampai Amril tertidur dua kali.

BB hanya ingin kasusnya lekas selesai. Tak lama seperti Ibenk (01) yang 3 minggu lalu diputus hakim 9 tahun penjara dari tuntutan 10 tahun. Masa menunggu sidang memang lama, bisa sampai 1 tahun. Inipun sudah diperpanjang masa penahanannya.

BB minta Idrus, Arfan dkk sulsel agar titip salam ke HS di Rutan Makassar. Intinya agar masalah tak saling memberatkan, sebaiknya dilakukan evaluasi atas kronologis pada BAP masing-masing. Itu saja.

Sejak awal saya dan Pak Sekda Depok menyarankan agar cukup gunakan satu pengacara saja, namun semua punya alasan dan kepentingan masing-masing. Maksudnya biar mudah melukis jalan cerita, membangun alibi sehingga cocokologi.

Kami bubar usai dua jam di lapas. Mampir ishoma di RM Padang. Makan dan selfi sejenak. Diterima pukul 13.00 di Rutan Makassar. Tempat HS menunggu sidang. Dipisah tembok, ada Erwin dan Jufri Kau yang sempat kontakan. Insya allah beliau berdua bisa lepas tahun depan.

BB dan HS sehat walafiat. Keduanya berusaha tampil biasa saja. Sama-sama rileks dan tegar. Kami prihatin dan haru. Apalagi kawan putri berkaca-kaca, mengingat masa-masa sukacita saat masih bersama. Kami ikut hanyut.

Kami berakhir di Kafe Lidi. Menyatu dengan Basir, Andi Mappanyuki, dan Subhan Rahman. Bercerita dan menemukan sisi positif dan negatif dari semua perkara yang pernah Pasopati alami. 

Kita makin tua. Bagian baiknya kita petik, like, share and comment. Sisi gelapnya cukup dikemas jadi bahan candaan. Seperti film pendek Jacky Chan, dibuang sayang. Seburuk apapun tiap masalah tentu punya nilai untuk diserap. Bergantung cara kita menilai setiap masalah.

Bersyukurnya kita masih ada di alam bebas, masih merdeka, masih bisa tertawa, makan dan minum normal. Bandingkan dengan sahabat lain yang masih terkurung, terpenjara bahkan oleh istri dan suaminya sendiri.

Makan dan minum mulai dibatasi, tertawa pun mungkin di kontrol. Bukan kuatir melampaui kesopanan, tapi kuatir sewaktu-waktu gigi palsu kita lepas bergelinding di lantai warung. Hilang ga seberapa, malunya itu lho!...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seri: Kajian Filsafat Ilmu Pemerintahan

Sejarah Singkat Luwuk

Memosisikan Mahakarya Kybernologi Sebagai Ilmu Pemerintahan Berkarakter Indonesia[1]