Makna Pahlawan dan Pengorbanan
oleh. Dr. Muhadam Labolo
Kata pahlawan dan pengorbanan adalah
dua hal yang berbeda namun memiliki hubungan yang sulit dipisahkan. Kalau anda menyebut pahlawan, tentu identik
dengan pengorbanan. Sebab tak ada
pahlawan yang luput dari pengorbanan baik harta maupun jiwa. Pahlawan biasanya mengorbankan apa saja yang
ia miliki. Mereka berjuang tanpa
pamrih. Mereka mendahulukan kepentingan
banyak orang dari sekedar kepentingan pribadi dan golongan. Mereka menolong, bukan menjadi beban pada
orang lain. Mereka kaya akan kebajikan,
bukan kaya dengan pujian. Bahkan, para
pahlawan nanti dikenang setelah mereka wafat. Bulan ini merupakan bulan yang
berkaitan dengan semangat kepahlawanan dan pengorbanan. Kita memperingati nilai heroisme hingga terbentuknya kemerdekaan negeri ini. Kita juga
diingatkan tentang nilai pengorbanan, sebab Nabi Ibrahim dan Ismail telah
memperlihatkan makna pengorbanan yang sesungguhnya. Pertanyaan kita adalah siapakah pahlawan yang
mampu berkorban sebagaimana contoh demikian?
Adakah diantara kita yang rela mati demi untuk memperjuangkan
kemaslahatan orang banyak? Atau paling tidak ikhlas mengorbankan harta demi
mereka yang benar-benar sedang membutuhkan?
Menurut saya, pahlawan adalah mereka yang mampu mempertaruhkan profesi,
harta, jabatan dan jiwanya demi keselamatan dan kebaikan orang banyak, tanpa
mengharapkan pamrih yang berlebihan. Simpelnya,
kalau anda seorang guru, tentulah seorang guru yang memiliki semangat
pengorbanan yang tinggi, mampu bertugas di pelosok desa yang paling jauh
sekalipun tanpa banyak mengeluh.
Contohlah sejumlah guru di Pulau Selayar atau pulau-pulau terluar di
Provinsi Ambon dan Papua, mereka dengan tekun dan sabar mengajar setiap hari
tanpa mengeluh karena terjangan ombak.
Atau sekelompok guru yang bertugas di pedalaman Kalimantan, Jawa Barat
dan Sulawesi Selatan. Mereka tak pernah surut hanya karena medan yang sulit,
tanpa alat transportasi, apalagi menimbang gaji kecil. Saya kira kita tak sulit menemukan pahlawan
demikian, cobalah tengok guru-guru yang mengajar di pulau-pulau dan pedalaman
kampung ini. Kita yakin, masih banyak
guru yang memiliki dedikasi, disiplin dan loyalitas yang tinggi untuk
mempertaruhkan profesinya demi masa depan siswa-siswi yang diajar. Merekalah pahlawan tanpa tanda jasa. Kalau
anda seorang pengusaha yang memiliki harta disana-sini, contohlah para dermawan
yang tak merasa kekurangan ketika merelakan hartanya untuk dibagi pada orang
yang tertimpa bencana di kaki gunung Merapi, pesisir pantai Mentawai atau
pedalaman Wasior. Ini juga pahlawan.
Jika anda seorang penguasa, setidaknya anda dapat mencontoh Presiden Chili
(Pinera) yang betah menunggui warganya selama 69 hari terjebak dalam sebuah
pertambangan. Ia bersama ketua penambang
(Urzula) mampu menyelamatkan puluhan pekerja tambang hanya dengan mengandalkan
sekerat roti dan susu untuk setiap 48 jam yang dibagi rata. Inilah pahlawan, sehingga salah satu kapling
surga ditempati oleh pemimpin yang adil.
Apabila anda seorang yang berani mempertaruhkan jiwa, setidaknya anda
dapat mencontoh seorang wanita cantik bernama Seniorita Valles, berusia 20
tahun asal Kota Praxedis, Mexico.
Mengapa saya menyuruh anda untuk mencontoh gadis manis lulusan
kriminologi tersebut. Coba anda bayangkan,
ketika kota kecil tersebut dilanda perang antar gangster mafia narkotik, tak
ada satupun yang mau menjadi polisi, apalagi menjadi kepala polisi. Saat masyarakat di kota tersebut dilanda perasaan
takut yang terus menghantui, pemerintah melakukan sayembara untuk merekrut
seorang kepala polisi. Tak ada
seorangpun yang mendaftar, satu-satunya si Valles. Kalau anda yang diminta menjadi kepala polisi
di tempat tersebut tentu saja anda akan berpikir seratus kali ketika tau bahwa sejak
Presiden Fellipe Calderon mendeklarasikan perang narkoba pada tahun 2008,
sebanyak 7000 orang tewas mengenaskan di wilayah Juarez. Total 29.000 orang
tewas sejak pencanangan perang anti narkoba.
Diantara yang tewas tersebut termasuk 11 walikota. Satu diantaranya adalah Walikota Praxedis. Parahnya, ketika ia dilantik menjadi semacam
Kapolsekta di kota tersebut, hanya tersisa 3 orang anggota polisi, sebagian
besar tewas, sisanya mengundurkan diri. Seniorita Valles adalah cermin seorang
warga yang patut dikatakan pahlawan, sebab ia berani mempertaruhkan jiwa tanpa
memikirkan gaji yang hanya 4000 peso atau setaraf 2,7 juta rupiah. Siapa yang berani mempertaruhkan jiwa
diantara ganasnya mafia narkotika tanpa proteksi yang menjamin masa depan diri
dan keluarganya? Sekarang, saya ingin
anda mencari pahlawan di sekitar anda, apakah masih ada guru yang dengan
telaten mengajar siswa tanpa mengeluh hanya karena gaji tak berkecukupan. Kalau
ada, mungkin dialah pahlawan kita. Sebaliknya, jika ada guru yang jarang masuk
kelas, mengajar tanpa standar yang jelas, pulang mendahului siswanya, apalagi
sibuk mengatur spanduk kandidat kepala daerah, sarankan saja supaya segera masuk
partai politik agar kalau terpilih bisa menjadi wakil rakyat, daripada
mengorbankan siswa di kelas hanya untuk mempertahankan jabatan kepala sekolah. Bagi
para pengusaha di kampung anda, lihatlah apakah mereka menjadi dermawan bagi
masyarakat yang tertimpa bencana, atau justru menjadi provokator dalam
demonstrasi disana-sini. Kita semua bangga, ketika Indonesia dalam keadaan
krisis pada tahun 1998, salah seorang pengusaha terkenal di kampung ini telah
menunjukkan kedermawanannya. Semua orang
tau, mudah-mudahan demikian seterusnya. Sekarang
tengoklah para pemimpin di daerah anda, apakah mereka telah mempertaruhkan
jabatannya demi melindungi kepentingan masyarakat luas, atau sebaliknya
berusaha mengeruk keuntungan di tengah penderitaan masyarakat. Banyak kasus dimana projek yang berkaitan
dengan keuntungan penguasa dimahalkan, supaya sang penguasa dan keluarganya
diuntungkan. Sebaliknya, kalau menyangkut kepentingan masyarakat justru
dimurahkan, supaya sisa keuntungannya kembali pada sang penguasa dan
kroni-kroninya. Ini jelas sangat kontras dengan nilai kepahlawanan dan
pengorbanan itu sendiri. Akhirnya,
lihatlah mental para penegak hukum di negeri ini, masih adakah diantara mereka
yang berani berdiri ditengah pertikaian antar kepentingan hanya dengan
bermodalkan keberanian, kejujuran, tanggungjawab moral dan profesi guna
menegakkan keadilan ditengah-tengah masyarakat?
Saya dan anda tentu saja meragukan, dan saya pikir sulit mendapatkan
pahlawan ideal seperti itu, sebab untuk mengurus Gayus saja mereka sudah
kelimpungan, apalagi menghadapi pertikaian antara penguasa dan pengusaha di
pusat dan daerah.
Komentar
Posting Komentar